Samarinda, VivaNusantara– Polemik dugaan penolakan pasien kecelakaan di IGD RSUD IA Moeis berbuntut panjang. Manajemen rumah sakit akhirnya menjatuhkan sanksi disiplin kepada 19 petugas yang bertugas saat kejadian.
Keputusan ini diambil setelah rapat evaluasi internal dan pertemuan dengan gabungan relawan ambulans yang dimediasi Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Rabu (25/3/2026).
Direktur RSUD IA Moeis, dr. Osa Rafshodia mengakui adanya kelalaian dalam penanganan pasien korban kecelakaan di Jalan Poros Samarinda–Balikpapan sehari sebelumnya.
“Tadi pagi saya sudah menjatuhkan hukuman disiplin kepada yang terlibat shift sore sebanyak 19 orang, berupa menunda atau tidak menerima jasa pelayanan selama tiga bulan dan teguran disiplin sedang,” tegasnya di hadapan para relawan.
Sanksi yang diberikan juga meliputi penundaan kenaikan pangkat bagi yang memenuhi syarat.
Manajemen menyebut, sanksi ini tidak hanya berdasarkan laporan yang masuk, tetapi juga hasil penelusuran internal terhadap prosedur yang dijalankan saat kejadian.
“Ini bukan sekadar aduan. Kami telusuri, dan jika terbukti ada kesalahan, kami jatuhkan sanksi,” ujarnya.

Dalam penjelasannya, pihak rumah sakit mengakui adanya ketidaksesuaian prosedur di lapangan.
Pasien seharusnya
Mendapat penanganan awal untuk stabilisasi,
dipindahkan menggunakan ambulans rumah sakit,
Didampingi dalam proses rujukan
“Memang ada ketelodoran. Seharusnya pasien distabilkan dulu dan dipindahkan menggunakan ambulans rumah sakit,” kata Direktur.
Kendala Stok Alat Operasi
Manajemen juga mengungkap salah satu kendala utama, yakni keterbatasan alat medis berupa plat untuk operasi tulang yang sedang kosong.
Menurut mereka, Stok plat untuk tulang kaki bawah telah habis digunakan selama awal Ramadan.
Lonjakan kasus kecelakaan membuat kebutuhan meningkat
Pengadaan sudah dilakukan, namun pengiriman baru dijadwalkan pekan depan.
Meski demikian, kondisi tersebut diakui tidak boleh menjadi alasan untuk tidak melakukan penanganan awal.
Relawan: Penolakan Bukan Sekali Terjadi
Dalam forum yang berlangsung cukup panas, relawan menyampaikan kekecewaan mereka.
Mereka menilai kejadian serupa bukan pertama kali terjadi, bahkan telah berulang sejak 2022.
“Kalau tidak bisa menangani, minimal dibantu. Stabilkan, pindahkan ke ambulans, dampingi. Jangan dilepas begitu saja,” tegas Ketua ITS Jokis.
Relawan juga menekankan bahwa mereka bekerja tanpa orientasi keuntungan, murni untuk kemanusiaan.
Sistem Dinilai Belum Siap di Jalur Rawan Laka
Relawan mengingatkan bahwa RSUD IA Moeis berada di jalur strategis yang kerap terjadi kecelakaan, sehingga seharusnya menjadi garda terdepan penanganan korban.
Saat ini, terdapat sekitar 33 unit ambulans relawan yang aktif membantu evakuasi di lapangan.
“Kalau relawan tidak ada, apakah rumah sakit siap menjemput pasien?” ujar salah satu relawan.
Komitmen Perbaikan
Manajemen RSUD IA Moeis menyatakan akan melakukan pembenahan menyeluruh, antara lain,
perbaikan SOP penanganan pasien gawat darurat,
penguatan komunikasi dengan relawan,
pelatihan internal tenaga medis,
pembenahan pelayanan, termasuk aspek keamanan dan etika petugas.
Rumah sakit juga membuka jalur komunikasi langsung dengan relawan untuk koordinasi penanganan pasien ke depan.
“Kami mohon maaf. Ke depan akan kami perbaiki, termasuk komunikasi saat pasien dirujuk,” ujar pihak manajemen.
Dinas Kesehatan Turun Tangan
Pertemuan antara relawan dan pihak rumah sakit difasilitasi langsung oleh Dinas Kesehatan Kota Samarinda sebagai respons atas polemik yang mencuat di publik.
Kasus ini menjadi catatan penting bahwa dalam situasi darurat, bukan hanya fasilitas yang diuji, tetapi juga disiplin, koordinasi, dan kepekaan terhadap nyawa manusia.
Sanksi terhadap 19 petugas menjadi langkah awal. Namun publik kini menunggu: apakah pembenahan benar-benar terjadi, atau kasus serupa akan kembali terulang. (TW)
Editor : TW