Samarinda, VivaNusantara — Pagi itu, Pasar Pagi Samarinda belum sepenuhnya terjaga. Lorong-lorong kios tampak lengang, sebagian pintu masih tertutup, dan aroma sayur segar yang biasanya menjadi penanda kehidupan pasar belum begitu terasa. Suasana tenang itu menjadi potret awal dari sebuah perubahan.
Di salah satu sudut lantai tiga, seorang lelaki paruh baya tampak telaten menata dagangannya, jilbab dan mukena disusun rapi di dalam kios sederhana berukuran 2 kali 2 meter. Sesekali ia berhenti, memandang lorong pasar yang masih sepi, lalu kembali bekerja. Wajahnya menyimpan optimisme, berharap langkah-langkah pengunjung akan kembali ramai, seiring kios-kios lain mulai terbuka.
Pasar legendaris ini memang tengah memasuki babak baru.
Sebanyak 1.804 pedagang tercatat telah masuk dalam tahap pertama pemindahan Pasar Pagi Samarinda. Jumlah tersebut merupakan bagian dari sekitar 2.500 pedagang yang selama ini menggantungkan penghidupan di pasar tujuh lantai ini.
Pemerintah Kota Samarinda memulai proses relokasi secara bertahap. Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Samarinda, Nurrahmani, mengatakan tahap pertama ini menjadi pijakan sebelum proses dilanjutkan ke tahap berikutnya.
“Untuk tahap pertama sekitar 1.804 pedagang. Setelah ini kami akan rapat kembali untuk persiapan tahap kedua,” ujarnya, Senin (12/1/2026).
Seiring pemindahan, wajah Pasar Pagi ikut ditata ulang. Lantai demi lantai disusun ulang agar aktivitas jual beli lebih tertib dan nyaman.

H. Sam Lamsah, pemilik kioa jilbab AR – Rakhman Muslim, di lt 3 Blok C tampak sedang melayani pembeli, Minggu (11/1/2026)
Lantai satu kini difungsikan sebagai area parkir, memberi ruang yang lebih lega bagi pengunjung yang datang. Namun, di balik penataan tersebut, persoalan lain ikut mencuat. Kapasitas parkir di kawasan Pasar Pagi dinilai sangat terbatas. Area parkir yang tersedia saat ini hanya mampu menampung sekitar 70 unit mobil dan 300 unit sepeda motor. Angka itu jauh dari ideal, mengingat jumlah pedagang saja telah melampaui seribu orang, belum termasuk pengunjung harian.
Di lantai dua, denyut pasar mulai terasa. Pedagang sembako, elekteonik, pakaian potongan, jamu, kue kering hingga aksesori sudah mulai berjajar rapi. Di sisi lain, zona basah diisi pedagang daging, ayam, ikan, daging sapi, dan sayur-sayuran masih belum terisi sama sekali.
Naik ke lantai tiga, kios kosmetik, sepatu, sandal, jilbab, dan konveksi menjadi wajah utama. Di blok C, lelaki paruh baya tadi adalah H. Sam Lamsah, pemilik kios jilbab AR-Rakhman Muslim. Ia mengaku mendukung penataan pasar, namun berharap kebijakan yang diambil juga berpihak pada keseharian pedagang.
“Kami sangat berharap ada kebijakan khusus, terutama soal parkir pedagang, supaya tidak disamakan dengan pengunjung. Terus terang agak berat bagi kami,” ujar Sam Lamsah.
Pedagang makanan tetap tersedia di setiap lantai, meski ditempatkan di area sudut agar tidak mengganggu arus lalu lintas pengunjung. Sementara di lantai empat terdapat pedagang emas, konveksi, tas, dan makanan. Lantai lima hingga lantai tujuh lebih didominasi oleh pedagang konveksi.
“Lantai lima lebih dominan konveksi, begitu juga lantai enam dan tujuh,” jelas Nurrahmani.
Pemindahan dan penataan ini bukan sekadar soal memindahkan lapak. Bagi pemerintah, ini adalah upaya menata Pasar Pagi agar lebih tertib dan nyaman. Namun bagi pedagang seperti Sam Lamsah, perubahan ini juga tentang menyesuaikan diri, antara harapan akan pasar yang lebih baik dan tantangan menjaga keberlangsungan usaha.
Di tengah proses transisi itu, denyut Pasar Pagi belum sepenuhnya padam. Para pedagang tetap membuka kios, menata dagangan, dan menunggu langkah-langkah baru yang kelak kembali meramaikan lorong-lorong pasar.(LS)
Editor : TW