Home NasionalJawa BaliTenun Putri Ayu Blahbatuh: Panggilan Batin yang Menghidupi Tradisi di Tengah Sepinya Regenerasi

Tenun Putri Ayu Blahbatuh: Panggilan Batin yang Menghidupi Tradisi di Tengah Sepinya Regenerasi

by Redaksi
0 comments

Gianyar, VivaNusantara — Di balik hiruk-pikuk pariwisata Bali, geliat industri tradisional tetap berdenyut dalam sunyi. Salah satunya hadir melalui Tenun Putri Ayu, sentra kain tenun ikat yang berdiri sejak 1991 di Jalan Lapangan Astina, Desa Blahbatuh, Gianyar. Meski didera persaingan industri sandang global, usaha ini masih tegak berdiri menjadi saksi ketekunan budaya yang diwariskan lintas generasi.

Didirikan oleh Ida Bagus Adnyana, perusahaan tenun ini tumbuh dari kegelisahan sekaligus panggilan batin. “Ketika saya melihat seni di kain tenun itu seperti melihat televisi, semuanya terlihat indah,” ungkapnya saat ditemui Tim VivaNusantara, Minggu (23/11/2025).

Dari ketertarikan itulah lahir komitmen menjaga identitas seni tenun Bali agar tetap hidup. Pandemi Covid-19 menjadi ujian paling berat selama puluhan tahun perjalanan usaha ini, meski produksi dan permintaan menurun drastis.

Galeri Tenun Putri Ayu (Tim VivaNusantara)

Kuncinya adalah inovasi dan keberanian menciptakan motif-motif baru tanpa meninggalkan pakem budaya Bali. Endek produksi Putri Ayu dikenal karena kerumitan motifnya, mulai dari motif sakral seperti patra dan encak saji yang diperuntukkan bagi upacara keagamaan, hingga motif yang dikhususkan bagi kalangan bangsawan.

Identitas budaya inilah yang kelak mengantarkan Putri Ayu menembus panggung mode dunia. Pada 2021, rumah mode Christian Dior memilih kain endek Putri Ayu sebagai material busana koleksi musim semi musim panas.

Kolaborasi itu terjalin melalui kerja sama Pemerintah Provinsi Bali dan Dior dalam mempromosikan Ekspresi Budaya Tradisional Indonesia. Putri Ayu dipercaya sebagai salah satu pemasok kain endek yang diproduksi melalui teknik tenun tradisional.

Meski hanya memiliki sekitar 40 alat tenun dengan produksi rata-rata 2 meter per alat, jangkauan pasar Putri Ayu tak hanya mengalir di Bali. Sejak 1995 hingga 2015, Jepang menjadi pasar terbesar sebelum terhenti akibat tsunami yang melanda Negeri Sakura.

Konsistensi inovasi membuat Putri Ayu tetap relevan. Dari tangan para penenun, lahir motif Hanacaraka serta motif Kajang Siwa yang kini menjadi ikon perusahaan. Motif aksara Bali ini diproduksi dalam ukuran 250 x 107 cm, terdiri atas rangkaian lipatan aksara yang masing-masing selebar 35 cm.

Ketika tekstur dan guratan aksara berpadu dalam satu lembar kain, lahirlah estetika yang seolah memancarkan bunyi mistis. “Motif Hanacaraka ini kami rintis sekitar tujuh tahun lalu,” kata Ida Bagus Adnyana.

Meski tetap produktif, Putri Ayu menghadapi tantangan terbesar yaitu regenerasi. Anak muda sangat jarang tertarik menjadi penenun, membuat jumlah perajin semakin menyusut. “Penenun di sini sekarang tinggal sekitar 30 orang, dan mereka sudah beranak cucu,” ujarnya.

Semakin tua usia penenun, kualitas tenunan justru semakin bagus. Namun tanpa generasi penerus, masa depan industri tenun tradisional terancam. Karena itu, Putri Ayu membuka pintu selebar-lebarnya bagi siapa pun yang ingin belajar dan melanjutkan tradisi ini.

Penulis: Intan
Editor: Lisa

You may also like