Home NasionalJawa BaliMenguji Adrenalin di Ubud, Menyusuri Nafas Sungai Ayung

Menguji Adrenalin di Ubud, Menyusuri Nafas Sungai Ayung

by Redaksi
0 comments

Gianyar, VivaNusantara. Pagi itu, kawasan Ubud masih diselimuti udara lembap ketika rombongan VivaNusantara berhenti di tepi tebing. Di hadapan mereka, sekitar 300 anak tangga menurun tajam menuju Sungai Ayung, sebuah permulaan yang langsung menguji napas sebelum petualangan air dimulai.

Dari atas, terdengar gemuruh sungai yang seakan memanggil, mengajak siapa pun untuk turun dan menyentuh dunianya. Sebelum bergerak, para peserta telah dibekali helm, life jacket, dan dayung oleh tim ATV Adventure Bali yang berangkat bersamaan dengan mereka. Perlengkapan itu bukan sekadar formalitas, semuanya menjadi identitas khas bagi orang-orang yang hendak menaklukkan arus.

Pemandu profesional memberikan instruksi singkat, cara memegang dayung, posisi tubuh saat arus menguat, hingga kode perintah. Petunjuk disampaikan santai, membuat sebagian peserta mengangguk sambil tertawa kecil mencairkan suasana.

Di dasar lembah, sebuah perahu karet berwarna merah telah menunggu. Begitu rombongan naik, sungai langsung menunjukkan karakternya. Arus Ayung lembut, tetapi sesekali memberikan kejutan kecil yang membuat perahu sedikit bergeser atau terputar. Percikan air pertama mengenai wajah salah satu peserta, dan tawa langsung pecah seperti aba-aba dimulainya perjalanan.

Bagi siapa pun yang menyusuri Ayung, pemandangan adalah hadiah utama. Relief batu di tepian tebing tampak seperti karya seni alam. Pepohonan menjuntai dari atas, membentuk kanopi hijau yang membingkai sungai. Sesekali, air terjun tersembunyi muncul dari sela bebatuan pendek, jernih, dan tampak seperti rahasia kecil yang hanya bisa ditemukan oleh mereka yang melintas dekat.

Rita, salah satu peserta, terlihat paling antusias. Bukan tanpa alasan, rafting bukan hal baru baginya.

“Walaupun bukan pertama kali, Ayung tetap beda, tempat ini punya suasana yang nggak ada duanya,” ujarnya, Minggu (23/11/2025).

Rafting sendiri merupakan kegiatan yang memadukan petualangan dan koordinasi. Peserta duduk di perahu karet, menyusuri aliran sungai, mengayuh mengikuti instruksi pemandu. Dalam perjalanan Ayung sepanjang 10 kilometer yang memakan waktu hampir dua jam, setiap peserta menemukan irama masing-masing, kapan harus mengayuh, kapan harus menahan, kapan harus membiarkan arus mengatur arah.

Ada momen ketika arus menguat tiba-tiba, membuat beberapa peserta spontan berteriak. Ada pula saat ketika perahu melambat, memberi ruang bagi mereka untuk melihat lebih seksama relief batu yang tampak seperti pahatan kuno.

Di salah satu titik aman, pemandu mempersilakan rombongan berhenti. Beberapa peserta turun ke sungai, merasakan air yang sangat jernih dan dingin menyentuh kulit. Rita berdiri di bawah air terjun kecil, membiarkan bahunya dibasahi, dan tak lupa untuk berswafoto.

Saat garis akhir sungai mendekat, perahu merah mulai menepi. Pengalaman belum sepenuhnya selesai, masih ada tanjakan yang harus dihadapi. Anak tangga menuju area akhir memang tidak sebanyak saat turun, tetapi tetap membuat napas beberapa peserta mulai tersengal.

Namun tak seorang pun tampak menyesal. Sebaliknya, wajah-wajah mereka menunjukkan kepuasan yang sulit disembunyikan.

Rita sempat menoleh ke arah sungai sebelum melanjutkan langkah.
“Capek sih, tapi worth it banget,” katanya lirih, seakan menyimpan sebagian dari dirinya di antara arus dan tebing Ayung.

Penulis: Intan
Editor: Lisa

You may also like