Samarinda, VivaNusantara – Sepanjang 2024, Kota Samarinda mencatat 4.042 kasus tuberkulosis (TBC) dengan angka kematian mencapai 145 pasien. Memasuki Januari–Agustus 2025, ditemukan lagi 1.645 kasus baru. Hingga September tahun ini, penyakit menular tersebut kembali merenggut 44 nyawa.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Samarinda, Ismid Kusasih, menilai kondisi ini sebagai alarm serius. Menurutnya, meski pemerintah gencar meningkatkan layanan kesehatan, angka kematian akibat TBC menunjukkan penanganan yang ada belum cukup menekan risiko.
“Di banyak daerah, kasus TBC sering tidak terdeteksi karena screening rendah, bahkan rata-rata di bawah 70 persen. Samarinda bersyukur bisa lebih baik, penemuan kasus kita sudah di atas 70 persen karena pemeriksaan dilakukan lebih cepat dan melibatkan lebih banyak masyarakat,” jelas Ismid, Kamis (18/9/2025).
Lanjutnya, keberhasilan ini tidak lepas dari penerapan Active Case Finding (ACF), yakni strategi jemput bola dengan melakukan pemeriksaan langsung pada kelompok rentan maupun terduga TBC. Cara ini diyakini mampu menekan risiko kematian sekaligus mencegah penularan lebih luas.
“Semakin cepat ditemukan, semakin cepat pula diobati. Itulah kunci agar penyakit ini tidak berkembang ke tahap berbahaya atau menelan lebih banyak korban,” tegasnya.
Namun, Ismid mengingatkan bahwa TBC tidak berdiri sendiri. Faktor lingkungan, pola hidup, hingga kondisi daya tahan tubuh sangat memengaruhi tingkat kerentanan seseorang. Karena itu, penanganan TBC tidak cukup hanya dengan obat, melainkan harus terintegrasi dengan edukasi kebersihan lingkungan dan gaya hidup sehat.
“Obat memang penting, tapi menjaga imunitas, kebersihan rumah, ventilasi udara, dan pemakaian alat pelindung diri juga tidak kalah penting. Kalau aspek-aspek ini diabaikan, TBC akan selalu menjadi ancaman,” ujarnya.
Selain itu, pasien HIV disebut menjadi kelompok paling rentan. Dinkes Samarinda kini memastikan 26 puskesmas telah menyediakan layanan pengobatan HIV dengan standar kerahasiaan tinggi, termasuk jadwal khusus pelayanan, agar pasien tidak merasa terstigma.
“Penderita HIV punya risiko lebih besar terkena TBC. Karena itu, pengobatan teratur wajib dijamin, dan kerahasiaan pasien harus dilindungi. Kami ingin mereka merasa aman datang ke puskesmas untuk berobat,” tutupnya.
Penulis: Ellysa
Editor: Lisa