Berau, VivaNusantara – Pulau Sangalaki di Kabupaten Berau masih menjadi rumah penting bagi penyu hijau untuk bertelur. Namun, keberlangsungan hidup satwa laut ini terus dibayangi ancaman. Bukan hanya predator alami dan kondisi lingkungan, ulah manusia lewat praktik pencurian telur memperbesar risiko kepunahan.
Kepala Resort KSDA 02 Kepulauan Derawan, Arsyad, mengakui pencurian telur penyu menjadi persoalan paling mengkhawatirkan. Pelaku biasanya menyasar lokasi yang jauh dari pantauan petugas. “Tempat favorit mereka itu di sektor-sektor yang jarang terpantau. Kalau di depan pos, jarang ada yang berani,” ucapnya, saat ditemui Tim VivaNusantara belum lama ini.
Selain perburuan, tantangan juga datang dari alam. Telur yang ditanam terlalu dekat bibir pantai kerap gagal menetas akibat terendam pasang laut. Sedangkan tukik yang berhasil lahir masih menghadapi bahaya saat menuju laut. Burung elang menjadi predator utama yang mengintai di udara. “Dari seribu ekor tukik, hanya sekitar 3 sampai 5 persen yang mampu bertahan hidup,” jelas Arsyad.
Upaya penyelamatan dilakukan dengan merelokasi sarang yang dianggap rawan. Prosesnya meniru lubang alami induk dengan kedalaman 80 sentimeter. Namun cara ini hanya berlaku untuk telur segar. “Kalau sudah lebih dari sehari, dipindahkan justru membuatnya gagal menetas,” tambahnya.
Faktor cuaca turut memengaruhi kelamin tukik. Saat musim kemarau, suhu panas cenderung menghasilkan lebih banyak betina, sedangkan musim hujan memunculkan jantan. Dalam sekali bertelur, satu induk rata-rata menghasilkan 70–100 butir, dengan tingkat keberhasilan menetas antara 80–90 persen.
Tingkat ancaman yang terus tinggi membuat Balai KSDA Kalimantan Timur menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat. Dukungan warga sekitar diyakini menjadi benteng terakhir penyelamatan penyu hijau di Berau.
Penulis: Intan
Editor: Lisa