Berau, VivaNusantara — Bila menyebut Kabupaten Berau, sebagian besar orang langsung teringat pada deretan tempat wisata yang melegenda. Mulai dari Pulau Derawan, Maratua, Danau Kakaban, hingga Labuan Cermin.
Namun di balik pesona yang seakan tak pernah pudar itu, tersembunyi ironi yang masih menjadi pekerjaan besar menempuh pesona alam Bumi Batiwakkal. Diantaranya akses darat ekstrem di poros Kelay, jalur yang selama bertahun-tahun berdiri sebagai titik rawan kecelakaan dan longsor.
Kecamatan Kelay, yang dilalui poros Berau–Samarinda, bahkan menjadi wilayah dengan catatan kecelakaan tertinggi di Berau. Data Polres Berau mencatat, pada 2023 terjadi 24 kasus kecelakaan dengan 22 korban meninggal yang menjadi angka fatalitas yang mencolok dalam beberapa tahun terakhir. Memasuki awal 2024, situasi belum mereda. Sejak Januari, sudah 11 nyawa melayang di ruas yang menjadi nadi perjalanan darat tersebut.
Kerusakan berat di sepanjang jalur itu menjadi pemicu utama, lubang menganga, permukaan bergelombang, badan jalan yang licin saat hujan, serta pergerakan truk perusahaan yang tak pernah sepi. Di tengah kondisi seperti ini, sedikit saja kelalaian mengantuk, hilang fokus, atau memaksakan laju kendaraan dapat berubah menjadi tragedi.
Ancaman lainnya datang dari longsor yang berulang kali memutus akses. Mei 2025, hujan deras menggugurkan material di Km 60–90 hingga jalur lumpuh total. Juli 2025, longsor kembali menutup ruas Kelay–Labanan. Terbaru, November 2025, pergeseran tanah memunculkan lubang besar dan kerusakan parah yang dinilai kritis sehingga memerlukan penanganan darurat.
Di tengah kondisi tersebut, secercah perubahan mulai terlihat melalui pembangunan Jalan Lingkar Kelay yang kini dikerjakan Pemerintah Kabupaten Berau.
Anggota Komisi III DPRD Kaltim, Syarifatul Syadiah, mengapresiasi langkah tersebut. Menurutnya, jalur alternatif yang menghubungkan Merapun–Panaan–Muara Lesan–Tumbit Dayak hingga Merasa ini dapat memberikan akses baru yang cenderung lebih aman sekaligus memangkas waktu tempuh secara signifikan dibandingkan jalur lama yang kondisinya memprihatinkan.

Anggota Komisi III DPRD Kaltim Syarifatul Syafiah. (Foto: Ain)
“Pemkab Berau tengah membangun Jalan Lingkar Kelay, sudah beberapa kampung tersambung. Ini sangat menghemat waktu,” ujar Syarifatul, Jumat (28/11/2025).
Meski masih tahap pengerasan dan belum ideal untuk musim hujan, ia optimistis jalur ini akan menjadi solusi akses transportasi yang lebih aman dan nyaman. Jalur lama diketahui kerap menghadirkan risiko dengan jurang dalam, titik longsor, hingga kabut tebal pada malam hari.
“Ruas dari Merapun ke Kelay itu parah sekali, truk-truk besar saja banyak yang terhenti di tengah jalan,” ungkapnya.
Syarifatul menilai pembangunan ini tetap membutuhkan dukungan pendanaan dari Pemerintah Provinsi Kaltim melalui Bantuan Keuangan (Bankeu). Ia berkomitmen mengawal agar Kabupaten Berau memperoleh tambahan anggaran untuk percepatan pengerasan dan pengaspalan.
Kontur jalur lingkar yang lebih landai, menurutnya, merupakan potensi besar untuk dikembangkan, meski sebagian wilayahnya berada di lahan rawa sehingga memerlukan penanganan khusus.
Ia berharap proyek tersebut segera rampung sehingga masyarakat pedalaman Berau dapat menikmati jalur darat yang lebih aman, cepat, dan mendukung mobilitas ekonomi.
“Kalau musim panas bisa dilalui, tapi saat hujan masih rawan. Semoga jalan ini bisa segera terlaksana, karena ini solusi yang baik bagi masyarakat Berau,” pungkasnya.
Penulis: Ain
Editor: Lisa