Home DaerahKota SamarindaPasar Pagi Samarinda dan Krisis Ruang Kota, Parkir Jadi Ujian Nyata Dishub

Pasar Pagi Samarinda dan Krisis Ruang Kota, Parkir Jadi Ujian Nyata Dishub

by Redaksi
0 comments

Samarinda, VivaNusantara — Persoalan parkir di Pasar Pagi Samarinda bukan sekadar keluhan pedagang atau soal mahal-murah tarif. Ia mencerminkan krisis ruang kota yang kian nyata. Ribuan orang bertumpu pada lahan yang semakin terbatas, sementara kebiasaan bergantung pada kendaraan pribadi masih sulit diputus.

Penerapan tarif parkir progresif menjadi penanda bahwa ruang sudah tak lagi cukup untuk dibagi secara longgar. Bagi pedagang yang bertahan sejak pagi hingga sore, kebijakan ini terasa menekan. Namun bagi pengelola kota, langkah tersebut adalah cara mengendalikan kemacetan dan memastikan pasar tetap dapat diakses pembeli.

“Kalau disamakan dengan pengunjung tentu beda. Kami di sini seharian. Harapannya ada tarif khusus atau sistem langganan,” ujar Ernawati, pedagang aksesori Pasar Pagi, Senin (12/1/2026). Hal senada disampaikan H Sam Lamsah yang menginginkan ada kebijakan khusus untuk pedagang atas tarif parkir.

Keluhan ini memperlihatkan wajah lain dari pasar tradisional di tengah kota, aktivitas ekonomi padat yang tidak diiringi dengan ketersediaan ruang parkir memadai. Ketika biaya parkir dihitung bulanan, ia berubah menjadi beban tambahan di luar ongkos dagang.

Namun angka-angka di lapangan menunjukkan keterbatasan yang tak bisa ditawar. Dinas Perhubungan Kota Samarinda mencatat, kapasitas parkir roda empat di Pasar Pagi hanya sekitar 69 unit, ditambah dua unit khusus disabilitas. Parkir roda dua tersedia sekitar 450 unit, sementara jumlah pedagang mencapai lebih dari seribu orang.

Kepala Dinas Perhubungan Samarinda, Manalu, menyebut kondisi ini membuat kebijakan kompromi nyaris mustahil.

“Kalau semua pedagang parkir lama, pembeli tidak kebagian tempat. Padahal pasar hidup dari perputaran pengunjung. Karena itu kami dorong sistem drop off,” jelasnya, Selasa (13/1/2026).

Di titik inilah Dishub Samarinda menghadapi tantangan terbesarnya, mengatur ruang yang sempit tanpa mematikan denyut ekonomi pasar. Sistem parkir progresif dipilih sebagai instrumen pengendalian, bukan semata alat penarikan retribusi.

“Kalau sistem langganan diterapkan, itu tidak adil. Semua ingin tetap parkir, tapi lahannya tidak mencukupi,” ujar Manalu.

Krisis ruang ini juga memperlihatkan pekerjaan rumah yang lebih besar. Selama transportasi umum massal belum menjadi pilihan utama, kendaraan pribadi akan terus membanjiri kawasan pasar. Dishub menyadari, kebijakan tarif hanya solusi jangka pendek.

“Ke depan, kalau anggaran memungkinkan, kami mendorong penguatan transportasi umum massal,” katanya.

Pasar Pagi Samarinda hari ini menjadi cermin keterbatasan kota, ruang tak bertambah, aktivitas terus meningkat. Di tengah tekanan itu, Dishub dituntut bukan hanya menertibkan, tetapi merancang ulang cara warga bergerak dan berbagi ruang.(LS)

Editor : Lisa

You may also like