Samarinda, VivaNusantara — Permintaan perawatan estetika non-bedah seperti botox dan filler terus melonjak di kalangan perempuan muda, terutama milenial dan Gen Z. Pasar estetika medis Indonesia diproyeksikan tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) 11,56% hingga 2029, dipicu oleh minat tinggi terhadap prosedur minimal invasif seperti botox dan dermal filler, menurut Healthcare Asia Magazine (2025).
Namun, peningkatan tren ini tidak terlepas dari risiko kesehatan. Botox yang disuntikkan secara tidak tepat dapat menyebabkan kelopak mata turun (ptosis), atrofi otot, dan perubahan ekspresi wajah.
Sedangkan filler, jika dilakukan oleh tenaga non-dokter atau menggunakan produk yang tidak terjamin, dapat menimbulkan reaksi alergi, infeksi, granuloma, hingga komplikasi serius seperti oklusi vaskular.
Fenomena ini semakin diperkuat oleh tekanan media sosial. Standar kecantikan yang digencarkan influencer di TikTok dan Instagram mendorong perempuan muda untuk mencari perawatan instan demi wajah flawless.
Data menunjukkan Gen Z, yang berusia awal 20-an, kini semakin banyak mencoba botox dan filler untuk “mencegah penuaan dini” (dilansir dari DetikHealth, 2025). Dr. Hanny Nilasari, Ketua Umum PERDOSKI, menekankan:
“Risiko jangka panjang sih rasanya botox tidak ya, tapi kalau filler, tentunya dalam 6 bulan dia akan berkurang, kadang-kadang 12 bulan, dan kadang-kadang itu harus diisi ulang … reaksi kimia tentunya itu kan harus diperhitungkan,” ujar Dr. Hanny Nilasari, Ketua Umum PERDOSKI dilansir dari DetikHealth.
Para ahli menyarankan agar perempuan muda yang mempertimbangkan prosedur estetika non-bedah berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter kulit atau estetika berlisensi. Alternatif non-invasif, riset tentang jenis filler, durasi efek, dan frekuensi injeksi juga perlu diperhatikan untuk meminimalkan risiko kesehatan jangka panjang.
Penulis: Intan
Editor: Lisa