Samarinda, VivaNusantara — Fenomena burnout di kalangan perempuan muda kembali menjadi sorotan pada 2025 setelah sejumlah laporan global dan riset nasional menunjukkan peningkatan signifikan. Kelompok usia 18–30 tahun disebut sebagai yang paling rentan, terutama mereka yang bekerja di sektor digital dan terpapar tekanan media sosial.
Laporan The Burnout Report 2025 yang dirilis Mental Health UK mengungkap 91% pekerja dewasa mengalami stres tinggi atau ekstrem sepanjang 2024–2025, dengan kelompok usia 18–24 tahun berada pada tingkat paling rentan. Sebanyak 28% perempuan muda dalam kelompok usia tersebut bahkan terpaksa mengambil cuti kesehatan karena tekanan psikologis, dilansir dari Mental Health UK (2025).
Tren tersebut sejalan dengan laporan Forbes (Februari 2025) yang menyebut 81% pekerja usia 18–24 tahun dan 83% usia 25–34 tahun menunjukkan gejala burnout, menjadikannya salah satu lonjakan terbesar setelah pandemi.
Di Indonesia, gejala kelelahan ekstrem pada pekerja perempuan juga meningkat. Studi “Demographic & Job Burnout: Indonesian Working Mothers” (2024) yang dilansir dari Universitas Diponegoro mencatat 66,36% perempuan pekerja mengalami burnout tingkat tinggi atau sangat tinggi.
Penelitian nasional lain pada 2024–2025 bertajuk “The Influence of Workload Towards Burnout Among Generation Z Employees in Indonesia” menegaskan bahwa beban kerja tinggi dan stres kerja merupakan faktor paling dominan yang memicu burnout pada perempuan Gen Z, dilansir dari ResearchGate (2025).
Gallup Global Workplace Study 2024, dikutip oleh beberapa media nasional, turut mencatat bahwa 15–16% pekerja Indonesia mengalami stres kerja harian, yang menjadi pintu masuk burnout kronis.
Sejumlah pakar yang meneliti burnout perempuan memberikan penjelasan mengenai risiko yang meningkat pada kelompok wanita muda.
Peneliti Islamidiena Dheananda Putri dalam jurnal “Effect of Burnout and Work–Life Balance on Psychological Well-Being in Full-Time Working Women” menegaskan:
“Burnout dapat berpengaruh negatif terhadap kesejahteraan psikologis pada perempuan pekerja penuh waktu, sedangkan work-life balance berpengaruh positif.”
(Dilansir dari Journal of Psychological Science, Universitas Negeri Malang, 2024).
Peneliti lain, Gebrina Rezki, dalam studi “Burnout Among Working Mothers”, menyebut, burnout di kalangan ibu atau perempuan pekerja sangat terkait dengan ketidakseimbangan antara peran kerja dan kehidupan rumah tangga, serta dukungan organisasi yang rendah.
(Dilansir dari Humanitas: Indonesian Psychological Journal, 2023).
Sementara itu, riset internasional “The Factors of Burnout among Working Women” oleh Nurhazwani Faqihah Bahaman (Malaysia, 2025) menyoroti aspek sosial.
“Penyebab utama burnout adalah minimnya pengakuan atas pekerjaan keras mereka, beban kerja berat, dan tekanan peran sosial sebagai perempuan.”
(Dilansir dari RSIS International Journal, 2025).
Masuknya generasi muda ke dunia kerja digital membawa tantangan baru. Notifikasi tanpa henti, jam kerja yang tidak jelas, hingga tekanan pencitraan di media sosial membuat perempuan muda mengalami “kelelahan digital”.
Australia’s Women Agenda (2025) mencatat bahwa perempuan 20–30 tahun adalah kelompok yang paling mungkin mempertimbangkan resign karena kelelahan mental akibat tekanan kerja dan interaksi digital berlebihan.
“Batas privat makin kabur. Perempuan muda merasa harus selalu responsif, perform, dan tampil ‘sempurna’ di dunia nyata maupun dunia digital,” tulis Women Agenda, dilansir April 2025.
Burnout tidak hanya menurunkan performa, tetapi juga meningkatkan risiko depresi, kecemasan, menurunnya imunitas tubuh, gangguan tidur, hingga kelelahan emosional kronis.
Penulis: Intan
Editor: Lisa