Bangli, VivaNusantara — Sore itu perjalanan Denpasar–Bangli tampak seperti lintasan yang ingin menguji kesabaran. Kemacetan menumpuk di Padangsambian, melambat lagi di Kesiman, hingga tanjakan yang berkabut menuju Bangli. Di tengah langit yang berubah dari cerah ke kelabu, tim VivaNusantara tetap melaju.
Tujuan kami adalah Desa Adat Penglipuran, kawasan Bali Aga yang kerap disejajarkan dengan Shirakawa-go karena kerapian tata ruangnya. Namun jauh sebelum gelar “desa terbersih di dunia” dikenal, Penglipuran telah berdiri dengan satu prinsip lama: ngelingang, mengingat akar dan leluhur.
Nama Penglipuran berasal dari pengeling (mengingat) dan pura (tempat suci), sebuah petunjuk bahwa desa ini bukan sekadar tempat tinggal, tetapi ruang untuk kembali. Penduduknya merupakan keturunan Desa Bayung Gede, desa tua yang sejak abad ke-14 teguh menjaga adat.
Ketika memasuki kawasan desa, jalur utama yang berlapis paving block tampak seperti garis lurus yang menuntun pada keteraturan. Rumah-rumah tradisional berdiri simetris, masing-masing dengan angkul-angkul serupa. Tidak ada kabel yang menggantung, tidak ada bangunan yang melanggar awig-awig.
Suasana lebih hidup dari biasanya karena bertepatan dengan Hari Raya Galungan. Penjor masih tegak menghias pekarangan, wisatawan memenuhi jalur utama, dan aroma dupa lembut menetap di udara.
Di tengah keramaian itu, kami bertemu Perima, seorang wisatawan asal Samarinda yang tengah berjalan bersama temannya. Ia mengaku takjub dengan ketertiban desa.
“Saya sudah beberapa kali ke Bali, tapi Penglipuran ini beda. Rapi, adem, dan nggak ada yang berlebihan. Berasa masuk ke masa lalu tapi tetap nyaman,” ujarnya sembari mengambil foto di depan angkul-angkul salah satu pekarangan. Minggu (24/11/2025).
Ketika hujan mulai berhenti, kami menyewa pakaian adat di dekat pintu masuk.
Perempuan mengenakan kebaya Bali, kamen, dan selendang prada.
Laki-laki memakai baju safari putih, kamen, serta udeng yang menandai kekhidmatan dan keseimbangan pikiran.
Ada sensasi berbeda seolah baru setelah memakai busana adat itulah kaki kami benar-benar masuk ke cerita Penglipuran.
Kami menyusuri jalur utama, berhenti berfoto, menyapa warga, dan menikmati bagaimana cahaya sore memantul lembut di permukaan paving block yang masih lembap.
Aroma durian lokal Bangli kemudian memanggil dari sebuah warung kecil. Seorang ibu menawarkan durian manis yang baru dibuka sore itu. Kami duduk di bale-bale, membagikan tawa sambil menunggu rintik hujan terakhir turun.
Momen sederhana itu justru menggenapkan perjalanan kami. Jika Ubud adalah jantung seni Bali modern, maka Penglipuran adalah denyut yang lebih tua lebih sunyi, lebih teratur, dan lebih setia pada ingatan.
Menjelang magrib, desa berubah. Cahaya temaram muncul dari pekarangan, suara langkah wisatawan melambat, dan udara Bangli mengirim gigil kecil. Di tengah jalur utama spot paling ikonik kami berhenti dan membiarkan keheningan bekerja.
Hujan benar-benar berhenti. Langit membuka celah lembut. Senja di Penglipuran terasa seperti doa yang turun perlahan.
Penulis: Intan
Editor: Lisa