Gianyar, VivaNusantara – Pertenunan Setia Cap Cili, salah satu rumah tenun tertua di Bali, terus mempertahankan produksi kain tenun ikat tradisional. Meski menghadapi tantangan regenerasi di kalangan anak muda, usaha yang berdiri sejak 1948 itu tetap setia menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM) dalam seluruh proses pengerjaannya di Gianyar.
Store Manager Pertenunan Setia Cap Cili, Ni Luh Putu Ariningsih, yang telah bertugas selama tiga tahun, menjelaskan ciri khas utama produk Cap Cili terletak pada motif dan kombinasi warna yang tidak ditemukan di tempat lain. “Untuk motifnya sendiri itu, kalau di tempat-tempat yang lain, ini tidak ada. Kombinasi dua warna seperti lucis dan petani itu berbeda, ada gradasinya,” ujarnya.

Saat Tim VivaNusantara mengunjungi Pertenunan Setia Cap Cili, Minggu (23/11/2025).
Menurut Ariningsih, proses pengerjaan setiap kain berbeda-beda tergantung motif yang dibuat. Motif yang lebih rapat membutuhkan waktu lebih lama, termasuk dalam proses pewarnaan yang melalui beberapa tahapan pencelupan. Seluruh kain dibuat secara manual oleh lima penenun yang bekerja di studio tersebut.
Ia menambahkan, tantangan terbesar saat ini adalah sulitnya regenerasi penenun muda. Menenun membutuhkan ketelatenan, ketekunan, serta kepekaan terhadap detail benang.
“Untuk tahu mana benang yang putus dan memperbaikinya itu perlu pengalaman dan kesabaran. Anak muda sekarang mungkin menganggap ini tidak mudah, jadi agak sulit mencari penerus,” kata Ariningsih. Minggu (23/11/2025).
Meski demikian, Cap Cili masih menarik perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara. Beberapa pelanggan salah satu nya dari Jepang disebut rutin datang setiap tahun untuk membeli produk Cap Cili.
“Mereka tahu kualitas produk kita seperti apa dan tidak menemukan tempat lain seperti ini,” tambahnya.
Selain motif tumbuh-tumbuhan dan hewan, Cap Cili juga memiliki motif kontemporer. Tercatat lebih dari 90 motif telah dikembangkan, termasuk motif khas seperti Dapura (Candi) yang memadukan unsur pohon kelapa dan garis-garis lurik.
Dalam upaya regenerasi, Pertenunan Setia Cap Cili bekerja sama dengan Institut Seni Indonesia (ISI). Mahasiswa magang diberi kesempatan mempelajari teknik menenun langsung dari penenun senior. Namun, Ariningsih mengakui bahwa penguasaan penuh teknik memperbaiki benang putus membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang.
Produk Cap Cili telah dipasarkan secara lokal, domestik, hingga ke beberapa negara. Mereka juga aktif berpartisipasi dalam acara busana seperti ANW Fashion Week jika stok produk tersedia. Toko beroperasi setiap hari pukul 09.00–17.00 kecuali pada hari raya keagamaan tertentu seperti Galungan, Kuningan, dan Nyepi.
Penulis: Intan
Editor: Lisa