Home OpiniPerselingkuhan Hadir Karena Cinta atau Obsesi?

Perselingkuhan Hadir Karena Cinta atau Obsesi?

by Redaksi
0 comments

Samarinda – Kasus perselingkuhan yang menghadirkan Pelakor (Perebut Lelaki Orang) marak menjadi tontonan masyarakat. Fenomena ini terjadi dengan berbagai alasan yang bersifat psikologis dan kompleks. Ada yang didasari rasa cinta, obsesi, bahkan berawal dari luka.

Meskipun perselingkuhan tidak dibenarkan, melihat dari kondisi psikologis yang dialami, Pelakor terobsesi pada kehidupan bahagia orang lain yang dapat menjadi sebuah pengalaman yang kompleks.

Fenomena “Pelakor”

Obsesi merebut pasangan orang lain menjadi suatu masalah yang disebabkan beberapa faktor psikologis individu dan kondisi sosial masyarakat. Fenomena ini tidak terjadi dalam ruang hampa, melainkan dibentuk oleh berbagai dinamika interpersonal dan struktural sosial. Dari perspektif psikologis, pelakor hadir akibat adanya berbagai motivasi.

Novel Kidung Sukma Larasing Jiwa karya Ardini Pangastuti,menggambarkan tokoh utama bernama Baskara, mengalami suatu kondisi psikologis Obsessive Love Disorder (Gangguan Obsesi Cinta) yang membuat ia berselingkuh dengan tokoh Bernama Arum. Teori psikoanalisis digunakan sebagai pisau analisis untuk memposisikan perselingkuhan.

Teori yang digunakan untuk mengetahui sebab terjadinya perselingkuhan adalah struktur kepribadian, Ego, dan Superego. Hal tersebut dibuktikan dengan bentuk perselingkuhan melalui upaya pendekatan saat awal perjumpaan, sampai dengan pelanggaran norma dengan melakukan hubungan suami istri.

Fenomena Pelakor Secara sosiologis
Dalam Journal of Urban Sociology 8 (1) 49-58, dengan judul Fenomena Pelakor di Era Digital: Analisis Kasus “Gayung Love Pink” dan Dinamika Perselingkuhan dalam Lingkungan Pribadi dan Profesional yang ditulis Qoriatul Fitriyah, menyatakan mengeksplorasi fenomena pelakor, merujuk pada perempuan yang terlibat hubungan terlarang dengan laki-laki yang sudah menikah.

Hal ini membuktikan, keruntuhan norma sosial dan relasional baik dalam lingkup profesional maupun personal. Yang mengungkap pola pelanggaran norma yang berulang di tempat kerja, sekolah, dan lingkungan pertemanan.

Dorongan Ekonomi dan Status Sosial

Perselingkuhan yang terjadi secara sengaja didorong oleh motif finansial dan keinginan untuk naik jabatan, hal tersebut memunculkan bias gender dan cenderung menyalahkan pihak perempuan sepenuhnya, sementara peran laki-laki (suami) dalam perselingkuhan sering kali dinormalisasi atau kurang mendapat stigma negatif yang setara. Stigma ini muncul akibat adanya mekanisme kontrol sosial yang membuat individu siap menghadapi konsekuensi dari tindakan mereka.

Dalam beberapa situasi, motif ekonomi atau keinginan untuk mencapai status sosial yang lebih tinggi dapat menjadi alasan keterlibatan seseorang dalam kasus perselingkuhan, dalam hubungan dengan laki-laki yang sudah menikah, meskipun sadar akan memikul risiko sosial yang besar.
Selain itu, adanya pergeseran Norma Sosial, hal tersebut juga dipengaruhi berita viralnya kasus-kasus perselingkuhan di media sosial.

Media sosial nyatanya mampu memainkan peran dalam membentuk narasi dan memperkuat stigma publik terhadap fenomena ini. Pelanggaran Norma Kepercayaan secara terminologis merupakan sebuah pelanggaran norma kepercayaan dalam suatu hubungan berkomitmen. Hal ini menciptakan konflik dalam keluarga, yang dapat berujung pada perceraian.

Penulis: Rhea Friady

Editor: Lisa

You may also like