Oleh : Tri Wahyuni
Gang itu tak lebih dari dua meter lebarnya. Sebuah lorong sempit di Samarinda Seberang, Kota Samarinda, tepatnya berdampingan dengan Kelurahan Tenun, di tepi sungai Mahakam, yang mungkin luput dari pandangan mereka yang terburu-buru mengejar modernitas. Namun justru di sanalah denyut kebudayaan Samarinda bertahan pelan, tekun, dan nyaris tanpa sorotan.
Di Kampung Tenun, Kelurahan Tenun, suara kayu beradu, benang ditarik, dan alat tenun digerakkan tangan-tangan terampil perempuan Bugis menjadi irama harian. Dari teras rumah sederhana yang mayoritas terbuat dari kayu, dari ruang-ruang kecil yang disulap menjadi bengkel kerja, lahir sarung Samarinda, kain yang tak sekadar menutup tubuh, tetapi membungkus sejarah, identitas, dan ketabahan.
Perempuan-perempuan itulah penjaga sunyi peradaban. Mereka menenun bukan hanya benang, tetapi ingatan. Setiap helai sarung adalah cerita yang diwariskan dari ibu ke anak, dari generasi ke generasi. Teras rumah mereka bukan sekadar ruang domestik, melainkan panggung budaya. Di sanalah mesin tenun tradisional yang warna kayunya sudah menghitam tegak berdiri, setia menemani waktu, seolah menolak tunduk pada mesin pabrik dan produksi massal.
Ibu Marhumi dan Benang-Benang yang Dijaga Alam
Di salah satu rumah di kampung itu, Ibu Marhumi tampak sibuk bersama dua orang ibu lainnya. Tangan mereka cekatan mewarnai benang-benang yang kelak akan ditenun menjadi sarung Samarinda. Pewarna yang digunakan bukan cairan pabrik berlabel mencolok, melainkan warna-warna alami, hasil olahan alam yang membutuhkan kesabaran, ketelatenan, dan pengetahuan turun-temurun.
Di teras rumahnya, benang-benang yang telah diwarnai tampak berjejer rapi disebatang kayu yang dibentangkan. Merah, cokelat, kuning keemasan, dan hitam alami menyatu dengan dinding rumah kayu yang sederhana. Pemandangan itu tenang, nyaris meditatif, seolah waktu berjalan lebih lambat di sana.
Sebagian dari benang itu kemudian dipasang pada alat tenun bukan mesin (ATBM). Bunyi tok-tak kayu kembali terdengar, irama lama yang tak pernah benar-benar pergi dari Samarinda Seberang.
Namun di balik ketekunan itu, terselip kegelisahan. Marhumi mengaku, bahan pewarna alami kini semakin sulit diperoleh. Tidak semua tersedia di tanah Kalimantan. Beberapa bahkan harus didatangkan dari luar pulau, dengan biaya yang tidak kecil bagi pengrajin rumahan.
“Kami ingin tetap pakai pewarna alami, karena itu ciri dan nilai sarung Samarinda. Tapi bahannya terbatas,” ujarnya pelan.
Kalimat itu sederhana, tetapi memuat pesan penting, menjaga tradisi bukan perkara romantik semata, melainkan juga soal keberlanjutan dan keberpihakan.
Jejak Bugis, Jejak Perlawanan
Sarung Samarinda bukan kerajinan yang lahir tanpa luka sejarah. Ia bermula dari perjalanan panjang bangsawan Bugis yang terusir oleh perang. Tahun 1607, seorang bangsawan Bugis dari Kerajaan Wajo, La Mohang Daeng Mangkona, bersama pengikutnya meninggalkan tanah Sengkang, Sulawesi Selatan, akibat kekalahan dalam perang melawan Kerajaan Bone.
Tujuan mereka sejatinya adalah Kutai. Namun perbekalan menipis, perahu-perahu terpaksa berlabuh lebih awal. Sejarah mencatat, La Mohang akhirnya diberi amanat oleh Raja Kutai, Adji Panegeran Mojo Kusuma, untuk tinggal di pesisir Sungai Mahakam, wilayah yang kini dikenal sebagai Samarinda Seberang.
Di tanah baru itu, orang Bugis membawa bukan hanya tubuh, tetapi keterampilan dan kebudayaan. Tenun menjadi bahasa bertahan hidup. Sarung menjadi penanda identitas. Dan ketika sekitar tahun 1710 Raja Kutai Adji Pangeran Dipati Anom Panji menikahi Putri Penoki dari Kerajaan Wajo, hubungan budaya kian menguat. Pedagang-pedagang dari Tiongkok datang, memperkenalkan benang sutra yang kemudian memperkaya bahan baku sarung Samarinda.
Dari persilangan sejarah itulah, sarung Samarinda tumbuh, sebagai produk budaya lintas bangsa, lintas zaman.
Kebudayaan yang Hidup, Bukan Pajangan

Warna-warni Sarung Samarinda tertata di workshop Ibu Marhumi di Kampung Tenun, Samarinda Seberang. Dari palet warna lembut hingga yang mencolok, setiap helai menyimpan cerita, ketekunan, dan warisan budaya yang terus hidup. Foto : Lina
Hari ini, di tengah laju pembangunan kota, kampung tenun itu masih berdiri. Dikelilingi beton, jalan besar, dan ritme kota yang kian cepat, gang-gang sempit itu menjadi benteng terakhir kebudayaan yang hidup.
Kesadaran akan pentingnya ruang hidup kebudayaan inilah yang mulai mendapat pengakuan. Wali Kota Samarinda, Andi Harun, masuk tiga besar nasional Anugerah Kebudayaan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat 2026, sebuah pengakuan atas ikhtiar menjadikan kebudayaan bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bagian dari pembangunan kota.
Pengakuan ini menemukan maknanya justru di rumah-rumah seperti milik Ibu Marhumi. Di teras sederhana tempat benang dijemur. Di alat ATBM yang terus bekerja. Di tangan-tangan perempuan yang menjaga identitas kota tanpa banyak bicara.
Sarung, Perempuan, dan Masa Depan Kota
Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026 mengusung tema Pemajuan Kebudayaan Daerah yang Inklusif dan Berkelanjutan, Berbasis Media dan Pers. Tema itu terasa nyata di Kampung Tenun Samarinda Seberang. Kebudayaan di sana inklusif karena memberi ruang bagi perempuan. Berkelanjutan karena hidup di keseharian, bukan sekadar festival.
Namun keberlanjutan itu tak bisa diserahkan sepenuhnya pada kesabaran para pengrajin. Ia membutuhkan keberpihakan kebijakan pada bahan baku, pada ekosistem produksi, dan pada manusia-manusia yang selama ini setia menjaga warisan.
Di gang sempit itu, sarung Samarinda terus ditenun.
Dengan benang alami.
Dengan tangan perempuan.
Dengan kesetiaan pada sejarah.
Dan di sanalah, sesungguhnya, masa depan kebudayaan Samarinda sedang dirajut, pelan, namun pasti.