Home Budaya & PariwisataMenyulam Warisan Menyusuri Kampung Tenun Samarinda

Menyulam Warisan Menyusuri Kampung Tenun Samarinda

by Redaksi
0 comments

Samarinda, VivaNusantara — Tradisi menenun sarung khas Samarinda terus berdenyut di tengah arus modernisasi. Di Kampung Tenun Samarinda Seberang, kesabaran dalam merangkai helai demi helai benang bukan hanya menghasilkan kain, tetapi juga menjaga napas budaya Kalimantan Timur agar tetap hidup dan berkelanjutan.

Rumah Tenun Rahmadina menjadi salah satu penggerak yang mempertahankan tradisi tersebut. Usaha ini berdiri sejak 2009 oleh almarhumah Ibu Rahmadina, berangkat dari kecintaannya terhadap tenun sarung Samarinda sebagai warisan turun-temurun. Setelah wafat, sejak 2016 usaha ini diteruskan oleh anak-anaknya dengan semangat pelestarian dan inovasi. Dari semangat keluarga itulah nama “Rumah Tenun Rahmadina” muncul sebagai identitas.

Sebagai penerus dari Rumah Tenun Rahmadina, Siti mengaku telah menenun sejak usia 14 tahun. Ia mengaku mencintai proses menenun bukan hanya sebagai mata pencaharian tetapi juga sebagai cara ikut merawat warisan daerah.

Siti, Penerus Rumah Tenun Rahmadina. (Foto: TW)

“Setiap benang itu ada makna. Kita ingin tradisi ini tetap ada, tidak berhenti di kami saja,” ujarnya saat ditemui Tim VivaNusantara, Jumat (28/11/2025).

Motif tenun yang diproduksi di Rumah Tenun Rahmadina cukup beragam, mulai dari motif Pucuk Rebung, Wajo, Bunga Ros, Naga Berantai, Balo Hatta, serta variasi motif Dayak dengan dominasi warna hitam, putih, ungu, biru laut, hijau, dan merah.

“Saya ingin terus berinovasi mengikuti perkembangan zaman, oleh karena itu saya tidak berhenti untuk belajar,” tegasnya.

Untuk penjualan produk dari Rumah Tenun Rahmadina itu sendiri juga sudah sampai diberbagai daerah, bahkan ia mulai menjajakan produknya di marketplace.

Marhumi. (Foto: TW)

Warisan keterampilan juga tampak dari perjalanan Marhumi kelahiran 1961 yang kini berusia 64 tahun. Ia dikenal karena keahliannya menggunakan pewarna alami sebuah keterampilan yang ia pelajari melalui pelatihan dan langsung diterapkan dalam produksi. Pewarna alami yang digunakan berasal dari kayu mengkudu, ulin, kulit bawang merah, putri malu, daun ketapang, hingga karamunting. Di antara bahan-bahan tersebut, kayu mengkudu adalah yang paling sulit ditemukan.

Menurut pengalaman Marhumi, penggunaan pewarna alami menjadikan warna sarung lebih kuat dan berkelas. Selera pembeli pun beragam, ada yang mencari warna alami maupun sintesis. Harga sarung dibanderol Rp400.000–Rp450.000, dengan pembeli terbanyak berasal dari Kalimantan Timur dan Banjarmasin, serta beberapa pesanan hingga ke luar negeri. Saat ini, produksi Rumah Tenun Rahmadina mencapai 60 sarung per bulan, menyesuaikan permintaan, dengan langganan tetap salah satunya berasal dari Banjarmasin. Satu tahun terakhir, permintaan juga datang dari Bank Indonesia.

Lurah Kampung Tenun Samarinda, Lisa Rizky Wardani, menyampaikan pemerintah kota turut memberi perhatian penuh terhadap keberlanjutan ekonomi para pengrajin.

“Pemerintah Kota Samarinda sangat mendukung kemajuan sarung tenun yang menjadi khas daerah kita, melalui program Probebaya yang di dalamnya terdapat kegiatan pemberdayaan masyarakat,” ujar Lisa.

Melalui program tersebut, pemerintah memberikan bantuan bahan baku berupa benang untuk menjaga produksi tetap berjalan sehingga para pengrajin dapat terus menenun.

“Tujuannya agar sarung Samarinda ini terus diproduksi dan ekonomi pengrajin tetap bergerak,” lanjutnya.

Selain bantuan material, pemerintah juga memberikan pelatihan keterampilan menenun serta pelatihan digital marketing.

“Kami ingin pengrajin tidak hanya berjualan secara offline. Dengan digital marketing, mereka bisa menjangkau pasar nasional hingga internasional,” jelas Lisa.

Inovasi turut berkembang seiring waktu, terutama dalam penggunaan pewarna alami untuk mendukung konsep UMKM hijau. Perkembangan ini dinilai membawa warna dan motif baru yang lebih menarik minat konsumen.

Dari sekitar 100 penenun di Kampung Tenun, kini hanya tersisa sekitar 30 penenun aktif. Harga benang yang sempat melonjak tajam membuat produksi menurun beberapa tahun terakhir. Namun pelan-pelan, geliat ekonomi kembali bangkit.

Penulis: Intan
Editor: Lisa

You may also like