Samarinda, VivaNusantara – Di kawasan Juanda, tepat di dekat perempatan lampu merah yang nyaris tak pernah sepi. Bagaimana tidak, disana berdiri empat sekolah besar, SMA Negeri 3, SMA Negeri 5, SMP Negeri 4, dan SMP Negeri 5 Samarinda.
Setiap pagi dan sore, kawasan ini berubah menjadi simpul kemacetan dan titik rawan kecelakaan. Di sinilah ratusan pelajar menyeberang jalan setiap hari tanpa lagi perlindungan Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) yang dulu berdiri kokoh, sebelum akhirnya dirubuhkan oleh Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Samarinda dengan alasan tak lagi layak.
Namun, pembangunan Pelican Cross baru saja diusulkan, setelah JPU dibongkar. Sistem penyeberangan modern ini memungkinkan pejalan kaki menekan tombol untuk menghentikan lalu lintas selama 20 detik.
Konsep ini diharapkan menjadi solusi yang lebih ramah dan aman, terutama bagi pelajar. Namun karena jalan tersebut masuk dalam kewenangan nasional, Pemkot Samarinda masih menunggu persetujuan dari pemerintah pusat, untuk realisasi proyek tersebut.
Yanti, orang tua siswa SMA Negeri 5 Samarinda, mengaku setuju dengan rencana pembangunan Pelican Cross, meski berharap agar pengelolaannya benar-benar maksimal.
“Saya jemput anak hampir tiap hari. Kalau mutar ke arah lain, jauh dan macet. Sekarang kalau nyebrang, untungnya kadang ada polisi yang bantu. Tapi itu cuma pagi, pas pulang enggak ada. Kalau ada pelican cross, harapannya ya bisa bantu anak-anak nyebrang lebih aman,” ujarnya ketika ditemui media ini, Senin (6/10/2025).
Yanti menambahkan, salah satu masalah utama di kawasan itu bukan hanya padatnya kendaraan, tetapi juga minimnya penjagaan di jam pulang sekolah, saat lalu lintas justru lebih berbahaya.
“Kalau pagi masih ada petugas, tapi pas pulang enggak ada. Padahal jam itu malah rame dan banyak mobil besar. Anak-anak kadang nunggu lama banget buat bisa nyebrang,” tambahnya.
Bagi Yanti, keberadaan Pelican Cross harus dibarengi dengan pemeliharaan rutin dan kesadaran pengendara.
“Jangan sampai nanti dibangun, tapi enggak dirawat. Kayak JPO dulu, akhirnya rusak karena kotor dan enggak diperhatikan,” katanya.
Ismail, siswa SMA Negeri 3 Samarinda, menggambarkan kondisi di lapangan dengan jujur.
“Saya setuju banget kalau ada Pelican Cross. Sekarang tuh susah banget nyebrang. Jalan padat, enggak ada yang bantu, dan kadang pengendara enggak mau berhenti. Jadi ya harus nekat,” ujarnya.
Lanjutnya, sejak JPO dirubuhkan, banyak pelajar akhirnya memilih jalan memutar atau menunggu lama di pinggir jalan, berharap ada celah untuk menyeberang.
“Kalau ada lampu pelican yang bisa kita pencet, pasti lebih aman. Soalnya kalau pagi, banyak mobil buru-buru ngejar lampu hijau. Kami kadang takut ditabrak,” katanya.
Seorang siswi SMP Negeri 4 Samarinda, yang enggan disebut namanya, juga mengaku sering merasa takut ketika menyeberang.
“Rame banget, kadang mobil langsung jalan lagi padahal kita baru mau nyebrang. Takut banget, apalagi kalau rame bareng-bareng,” katanya pelan.
Sementara itu, salah satu orang tua siswa SMPN 4 menilai bahwa meski JPO dulu berfungsi baik, pelican cross lebih realistis dan mudah digunakan.
“Kalau disuruh pilih, saya lebih setuju penyebrangan jalan aja,” katanya.
Ia juga menyoroti bahwa banyak pengendara yang tidak disiplin saat lampu kuning menyala.
“Orang kadang ngejar lampu merah. Kalau enggak ada alat bantu kayak pelican itu, bahaya banget buat anak-anak,” tutupnya.
Penulis: Ellysa
Editor: Lisa