Samarinda, VivaNusantara – Pemerintah Kota Samarinda terus memperkuat kualitas pengasuhan anak melalui Program Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA) sekaligus mendorong standardisasi Taman Asuh Ramah Anak (TARA)
Keduanya menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan pengasuhan yang aman, nyaman, responsif dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan pembelajaran dan berbagi praktik baik dengan kunjungan lapangan ke Tempat Pengasuhan Anak (TPA) Kebun Kita, Jalan Kedondong Dalam V, Gunung Kelua, dan Matavhati Islamic Day Care 1, Jalan Wijaya Kusuma XII Nomor 15, Air Hitam, Kecamatan Samarinda Ulu, Kamis (20/8/2026).
Kegiatan tersebut diikuti Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Samarinda, Neneng Chamrlia Shanti bersama Bunda PAUD Kota Samarinda, Rinda Wahyuni Harun, dan Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB) Kota Samarinda, Deasy Evriyani. Sejumlah perangkat daerah terkait juga turut hadir memberikan perhatian serius terhadap penguatan layanan pengasuhan anak.
Kunjungan lapangan ini juga menjadi momentum untuk melihat secara langsung praktik pengasuhan yang telah berjalan sekaligus mempelajari berbagai aspek yang dapat menjadi bahan penguatan program di Kota Samarinda.

Program TAMASYA berada di bawah leading sector Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB) Kota Samarinda, dengan fokus pada penguatan peran keluarga dan lingkungan pengasuhan dalam mendukung tumbuh kembang anak.
Sementara TARA menjadi bagian yang dikawal Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Samarinda, khususnya dalam memastikan pemenuhan prinsip dan standar ramah anak dalam lingkungan pengasuhan.
Dengan demikian, TAMASYA dan TARA memiliki peran yang saling melengkapi. TAMASYA menitikberatkan pada penguatan pengasuhan, sedangkan TARA memastikan lingkungan pengasuhan memenuhi standar yang berpihak pada kepentingan terbaik anak.
Sekda Kota Samarinda menilai pembelajaran langsung di lapangan penting untuk memastikan program yang dibangun pemerintah tidak hanya berjalan secara administratif, tetapi benar-benar memberikan dampak bagi anak.
“Kita ingin melihat langsung praktik baik yang sudah berjalan. Apa yang sudah bagus tentu bisa kita pelajari dan dikembangkan, sehingga TAMASYA maupun TARA benar-benar memberikan manfaat dan menjawab kebutuhan anak,” ujar Sekda.
Menurutnya, penguatan program tersebut membutuhkan kolaborasi lintas perangkat daerah. Sebab, persoalan pengasuhan dan perlindungan anak tidak dapat ditangani oleh satu instansi saja.
Perhatian serius juga ditunjukkan Bunda PAUD Kota Samarinda, Rinda Wahyuni Harun. Ia menilai lingkungan pengasuhan memiliki peran besar dalam membentuk karakter dan perkembangan anak sejak usia dini.
“Anak-anak harus mendapatkan lingkungan yang aman, nyaman dan penuh perhatian. Karena itu, kita harus memastikan standar pengasuhan dan lingkungan ramah anak benar-benar diterapkan, bukan hanya menjadi sebuah label,” kata Rinda.
Ia berharap praktik baik yang ditemukan dalam kunjungan tersebut dapat diterapkan di tempat lainnya.
“Kita ingin praktik baik ini bisa menjadi contoh. Yang paling penting adalah bagaimana anak mendapatkan pengasuhan terbaik, merasa aman dan nyaman, serta mendapatkan kesempatan untuk tumbuh dan berkembang secara optimal,” ujarnya.
Kegiatan pembelajaran tersebut sekaligus memperlihatkan pentingnya sinergi antara DP2KB sebagai leading sector TAMASYA dan DP3A dalam penguatan TARA, dengan dukungan perangkat daerah, lembaga pengasuhan, keluarga dan masyarakat.
Melalui kolaborasi tersebut, Pemkot Samarinda berharap pengembangan TAMASYA dan standardisasi TARA dapat berjalan beriringan. Bukan sekadar membangun tempat pengasuhan, tetapi menciptakan ekosistem yang menjamin keamanan, kenyamanan, kesehatan, pendidikan dan perlindungan anak.
Penguatan TAMASYA dan TARA pada akhirnya diarahkan pada satu tujuan: memastikan setiap anak di Kota Samarinda tumbuh dalam lingkungan yang aman, ramah, berkualitas dan mendukung kepentingan terbaik anak.(*)
Editor : TW