Penulis : Rizal Effendi
Nusantara, VivaNusantara – Ada banyak cara merayakan kemerdekaan. Di Ibu Kota Nusantara (IKN), peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI tahun ini tidak hanya diisi upacara. Ada pohon yang ditanam, ribuan orang berkumpul, langkah kaki menaklukkan ratusan anak tangga, hingga kesempatan melihat lebih dekat wajah baru ibu kota negara.
Catatan ini bermula dari sebuah pagi di IKN, Senin (17/8/2026).
Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI digelar di Lapangan Plaza Seremoni. Suasananya khidmat, tetapi rangkaian perayaan kemerdekaan di IKN terasa jauh lebih luas dari sekadar seremoni.
Salah satu kegiatan yang menarik perhatian adalah gerakan penanaman 1.708 pohon yang kemudian tercatat sebagai pemecahan Rekor MURI. Kegiatan bertema “Merdeka Bersama Alam” itu digagas Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Otorita IKN, Dr Myrna Asnawati Savitri.
“Ini komitmen kita dalam rangka mewujudkan IKN sebagai forest city,” kata Myrna.
Konsep forest city menjadi salah satu wajah yang ingin dibangun IKN. Dari total wilayah IKN, 75 persen dialokasikan sebagai ruang hijau. Sebanyak 65 persen area digunakan untuk konservasi dan pemulihan hutan, sementara 10 persen lainnya diarahkan untuk produksi pangan dan perlindungan habitat satwa liar.
Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono ikut turun langsung menanam pohon bersama istrinya, Kartika Basuki.
Pesannya sederhana, tetapi menarik untuk direnungkan.
Menanam pohon, menurut Basuki, seharusnya tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Ia ingin menanam pohon menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat.
“Jadikan gerakan menanam itu sebagai life style atau gaya hidup. Kegiatan apa saja termasuk ulang tahun tandai dengan menanam pohon,” kata Basuki.
Di antara peserta penanaman, ada mantan Wakil Gubernur Kaltim Hadi Mulyadi. Ada pula Kepala Perwakilan SKK Migas Kalimantan dan Sulawesi Haryanto Syafri.
Suasana semakin cair ketika Hadi ikut bernyanyi di panggung. Rupanya, ada kesamaan hobi antara Hadi dan Basuki: sama-sama menyukai musik dan pernah menjadi penabuh drum.
Lima Pohon untuk Mengingat Masa Lalu

Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono menanam pohon didampingi istrinya, Kartika Basuki dan Deputi Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam OIKN, Dr Myrna Asnawati Safitri.
Penanaman pohon juga membawa ingatan pada sebuah kebijakan lama.
Lima pohon ditanam sebagai pengingat era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), ketika setiap warga negara didorong menanam lima pohon setiap tahun dalam gerakan penanaman satu miliar pohon.
Salah satu pohon yang ditanam kali ini adalah Kruing (Dipterocarpus), pohon asli Kalimantan yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
Peserta juga mendapatkan bibit pohon dari Pusat Persemaian Mentawir Kementerian Kehutanan. Ada jambu, spathodea hingga tabebuya yang dijuluki sebagai sakura Indonesia.
Bagi Rektor Universitas Mulia, Dr Agung Sakti Pribadi, semangat lingkungan tersebut menarik untuk dibawa ke lingkungan kampus dan mahasiswa.
Menurut Basuki, sekitar 5 juta pohon telah ditanam di kawasan IKN.
Namun, pekerjaan penghijauan belum selesai.

Semangat menanam bersama Rektor Universitas Mulia Dr Agung Sakti Pribadi, Rektor Uniba Dr Isradi Zainal, Deputi Lingkungan Hidup OIKN Dr Myrna dan mantan Wagub Kaltim Hadi Mulyadi.
Ia masih menemukan pohon eukaliptus yang merupakan sisa tanaman industri monokultur. Persoalannya, kawasan semacam itu tidak menyediakan habitat yang cukup bagi satwa liar.
Karena itu, Otorita IKN menggandeng Borneo Orangutan Survival (BOS) untuk mendukung pengliaran orangutan. Infrastruktur IKN pun mulai memperhitungkan pergerakan satwa, salah satunya melalui jembatan penyeberangan satwa liar di jalan tol.
Merah Putih Berkibar di Plaza Seremoni
Setelah kegiatan penanaman, suasana berganti menjadi khidmat.
Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI berlangsung di Plaza Seremoni. Basuki Hadimuljono bertindak sebagai inspektur upacara dan mengenakan pakaian adat taqwo dari Kesultanan Kutai Kartanegara.
Upacara tahun ini menjadi peringatan kemerdekaan ketiga yang digelar di IKN sejak pembangunan tahap pertama rampung.
Sebelumnya, pada 17 Agustus 2024, IKN menjadi lokasi upacara kemerdekaan tingkat nasional untuk pertama kalinya. Presiden Joko Widodo saat itu memindahkan upacara kenegaraan dari Istana Negara Jakarta ke IKN.
Tahun ini, Paskibraka IKN berasal dari Purna Paskibraka Kutai Kartanegara dan siswa SMA Taruna Nusantara yang kampusnya telah berdiri di IKN.

Bersama Komandan Upacara Peringatan HUT Ke-81 Kemerdekaan RI di IKN, Kombes Pol Hendrik Hermawan dari Polda Kaltim
Komandan upacara dipercayakan kepada Kombes Pol Hendrik Hermawan dari Polda Kaltim. Pembacaan Pancasila dilakukan Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian, Pembukaan UUD 1945 dibacakan Staf Khusus Bidang Keamanan OIKN Irjen Pol Edgar Diponegoro, sementara teks Proklamasi dibacakan anggota DPD RI asal Kaltim, dr Sofyan Hasdam.
Sekitar 3.000 peserta dan undangan kemudian menikmati pertunjukan tari dan musik dari kepolisian, sekolah serta berbagai paguyuban.
“Alhamdulillah semua rangkaian acara termasuk upacara berlangsung lancar,” kata Sekretaris Otorita IKN Bimo Adi Nursanthyasto yang juga dipercaya sebagai Ketua Panitia Pelaksana.
210 Anak Tangga Menuju Istana Wapres
Ada pengalaman lain yang tidak kalah menarik.
Istana Wakil Presiden dibuka untuk publik sejak Sabtu (15/8/2026). Kesempatan itu dimanfaatkan untuk melihat lebih dekat bangunan yang berdiri di atas bukit di Jalan Sumbu Kebangsaan Sisi Barat.
Untuk mencapainya, pengunjung bisa menggunakan eskalator atau menapaki 210 anak tangga.

Bersama Plt Rektor Universitas Mulia Dr Agung Sakti Pribadi, Ketua IWAPI Kaltim Erna Gaffar dan Bu Eeng mengikuti upacara di IKN.
Rektor Universitas Mulia Agung Sakti Pribadi dan Rektor Universitas Balikpapan Isradi Zainal memilih menaiki tangga. Sebagian lainnya memilih eskalator.
“Stamina Pak Agung memang hebat,” celetuk Zainal.
Perjalanan turun pun sempat menjadi pengalaman tersendiri ketika eskalator mengalami gangguan.
Dari teras Istana Wapres, mata bisa diarahkan ke sejumlah kawasan IKN: kompleks perumahan menteri, Masjid Nusantara, rumah susun ASN dan kawasan lainnya.
Pemandangannya indah, meski debu proyek masih terlihat beterbangan di sejumlah titik.
Istana Wapres sendiri dibangun dengan anggaran APBN lebih dari Rp1,4 triliun. Bangunan tersebut dikerjakan PT Adhi Karya Tbk bersama Penta Architecture sejak 2025, di atas lahan 14,8 hektare.
Desainnya mengusung konsep “huma betang umai”, istilah Dayak yang berarti rumah panjang ibu. Maknanya merujuk pada ibu sebagai pengayom, pemberi dan pemelihara.
Kini tinggal menunggu kapan Istana Wapres benar-benar menjalankan fungsi utamanya.
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sebelumnya menyatakan siap berkantor di IKN apabila istana tersebut telah rampung.
Dan ketika saat itu tiba, ada harapan penyambutan dilakukan dengan tradisi lokal: tepung tawar serta tari manasai dari penari Dayak dan Kutai.
Merdeka yang Harus Dihidupkan
Perjalanan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di IKN akhirnya ditutup dengan sesuatu yang sederhana.
Sebelum meninggalkan kawasan upacara, singgah di sebuah warung UMKM. Soto Banjar dan es jeruk menjadi penutup perjalanan.
Di sana, ada pula parfum berlogo IKN dengan angka 17-8-45.
“Biar Indonesia tetap harum,” kata sang penjual sambil tersenyum.
Mungkin kemerdekaan memang seperti itu.
Ia tidak selalu harus diterjemahkan melalui pidato panjang.
Kadang ia hadir dalam sebatang pohon yang ditanam, langkah kaki yang menaiki ratusan anak tangga, kibaran Merah Putih di tengah hutan yang sedang dibangun, hingga senyum seorang pedagang kecil yang berharap Indonesia tetap harum.
Di IKN, kemerdekaan bukan hanya diperingati.
Ia sedang dicoba untuk dihidupkan.(*)