Samarinda, VivaNusantara – Kota Samarinda kembali menorehkan catatan penting dalam dunia pendidikan dengan hadirnya Sekolah Terpadu Samarinda yang mengintegrasikan jenjang SD, SMP, hingga SMA dalam satu sistem. Sekolah ini menggunakan kurikulum bilingual, yakni perpaduan antara standar Kementerian Pendidikan Nasional dan Cambridge International Curriculum.
Jumlah peserta didik di Sekolah Terpadu Samarinda saat ini mencapai 225 orang, yang terbagi merata pada setiap jenjang, yakni 75 siswa SD, 75 siswa SMP, dan 75 siswa SMA. Adapun tiga sekolah yang tergabung dalam kawasan terpadu tersebut adalah SDN 028, SMPN 16, dan SMA Prestasi.
Wali Kota Samarinda, Andi Harun, menegaskan kehadiran sekolah terpadu ini bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga strategi jangka panjang dalam mencetak generasi emas.
Ia berharap sekolah ini menjadi sekolah unggul yang mampu melahirkan lulusan berdaya saing, tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga internasional. Terlebih dari sekolah terpadu ini, Samarinda telah mencatat sejarah dalam mengagungkan ilmu pengetahuan.
“Termasuk menanamkan akhlak mulia, dan menyiapkan generasi emas untuk masa depan,” ungkap Andi Harun, di Kawasan Sekolah Terpadu Samarinda Jalan Loa Bakung, Selasa (30/9/2025).
Peresmian sekolah terpadu ini turut dihadiri Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Abdul Mu’ti, yang memberikan apresiasi atas terobosan Pemerintah Kota Samarinda. Sekolah terpadu ini menurutnya mencerminkan kesiapan daerah dalam menjawab tantangan global.
Ia mengapresiasi model pendidikan yang terintegrasi dari SD, SMP, hingga SMA dengan kurikulum berstandar internasional, yang dinilainya juga menjadi langkah maju yang bisa menjadi rujukan nasional.
“Saya juga melihat langsung bagaimana proses pembelajaran yang mengedepankan deep learning, sesuai kebijakan kami dalam meningkatkan kualitas pendidikan,” jelas Abdul Mu’ti.
Ia menambahkan, salah satu keunggulan sekolah ini adalah penggunaan Interactive Flat Panel (IFP) dalam proses belajar-mengajar. Fasilitas tersebut sangat relevan dengan arahan Presiden RI agar setiap sekolah unggulan memiliki sarana teknologi modern untuk menunjang kualitas pembelajaran.
“Pak Wali Kota sudah berupaya menghadirkan IFP secara mandiri. Jika masih diperlukan tambahan, kami siap mendukung sesuai arahan Presiden, yakni minimal satu IFP di setiap sekolah. Alat ini terbukti meningkatkan motivasi belajar siswa di semua jenjang,” ujarnya.
Lebih jauh, Abdul Mu’ti menilai sistem sekolah terpadu di Samarinda bisa menjadi referensi model sekolah unggul non-asrama. Selama ini, banyak sekolah unggul yang berbasis asrama, sementara Presiden RI mendorong adanya sekolah unggul non-asrama di setiap kecamatan agar akses pendidikan berkualitas lebih merata tanpa harus memisahkan anak dari keluarganya.
“Harapan Presiden, setiap kecamatan punya minimal satu sekolah unggulan non-asrama. Sistem di Samarinda ini bisa menjadi bahan kajian kami untuk mengembangkan model tersebut di tingkat nasional,” tambahnya.
Selain itu, pemerintah pusat juga berkomitmen membantu daerah dalam revitalisasi sarana pendidikan. Tahun ini, lebih dari 15.850 sekolah di Indonesia telah mendapatkan alokasi program revitalisasi, meningkat 30 persen dari alokasi awal. Menurut Abdul Mu’ti, komitmen tersebut akan terus berlanjut agar tidak ada lagi sekolah dengan kondisi fisik yang tidak layak.
“Kami berharap mulai tahun depan, program revitalisasi bisa segera menuntaskan persoalan sarana-prasarana yang tidak representatif. Itu bagian dari prioritas Presiden untuk memastikan anak-anak Indonesia belajar di lingkungan yang nyaman dan layak,” tandasnya.
Penulis: Ellysa
Editor: Lisa