Home OpiniMenjemput Wajah Baru Citra Niaga: Romantisme Masa Lalu, Visi Masa Depan

Menjemput Wajah Baru Citra Niaga: Romantisme Masa Lalu, Visi Masa Depan

by Redaksi
0 comments

Oleh: Rusdiansyah Aras

Samarinda, Minggu, 24 Mei 2026 — Matahari Samarinda tepat berada di atas kepala ketika langkah kaki saya bersama beberapa kawan karib kembali menapak di selasar Citra Niaga. Ada rasa yang berbeda. Ruang publik yang sarat sejarah ini—yang lahir di era Wali Kota Waris Husain dan pernah mengharumkan nama Indonesia lewat penghargaan arsitektur bergengsi Aga Khan Award for Architecture—kini tengah bersolek megah.

Di bawah tangan dingin Wali Kota Samarinda saat ini, Andi Harun, Citra Niaga sedang menulis ulang takdirnya.

Saya datang siang itu bersama Wahyudi, Herry Yudistira, dan Haidar Fatoni. Kami sengaja meluangkan waktu, menyisir sudut demi sudut untuk melihat dari dekat sebuah perubahan yang bukan sekadar kosmetik, melainkan transformasi yang mendasar.

Kerlip Asiatique di Tepi Mahakam

Berada di tengah riuhnya Citra Niaga yang baru, ingatan saya mendadak melompat jauh ke hilir Sungai Chao Phraya, di Bangkok. Saya teringat saat menyusuri Asiatique The Riverfront.

Memang, Asiatique jauh lebih luas, lebih megah, dan berbatasan langsung dengan eksotisme sungai. Namun siang itu, di Citra Niaga, kemiripan rasa itu menyergap saya.

Citra Niaga pun sejatinya memiliki berkah yang sama. Ia begitu dekat dengan kemegahan Sungai Mahakam, hanya terpisah oleh bentangan Jalan Yos Soedarso. Potensi air dan ruang yang berpadu ini seolah membisikkan satu hal: Samarinda sedang bergerak menuju kota peradaban yang menghargai ruang hidup warganya.

Suasana Citra Niaga hari ini jelas telah menanggalkan wajah kusam masa lalu. Ia tampil lebih apik, rapi, dan estetis.

Yang paling kasat mata dan patut diapresiasi: tidak ada lagi semrawut kabel listrik yang bergelantungan memotong langit. Semuanya tertata bersih, memanjakan mata yang memandang.

Di kanan-kiri, denyut ekonomi mikro terasa begitu nyata. Hampir semua pelaku UMKM sibuk melayani pembeli. Saya tidak tahu pasti berapa ratus juta atau miliaran rupiah perputaran uang yang terjadi di sini dalam sehari, namun satu hal yang pasti: kesejahteraan sedang dipahat di sini.

Menurut hemat saya, Andi Harun adalah sosok pemimpin yang visioner. Citra Niaga adalah satu dari sekian bukti sahihnya. Tengok saja bagaimana proyek Teras Samarinda yang memesona, serta revitalisasi Pasar Pagi menjadi pasar modern. Beliau tidak sekadar berjanji—beliau membuktikannya dengan kerja nyata.

Catatan Kecil dari Sudut Ruang

Setengah jam kami berputar-putar, mengagumi estetika baru kompleks ini. Tepat pukul 11.45 WITA, menjelang berkumandangnya azan Zuhur, sebuah kesadaran religius mengetuk benak saya.

Di tengah kemegahan visual ini, mata saya belum menangkap keberadaan musala yang representatif.

Ini adalah catatan kecil, tetapi penting.

Bagaimanapun, bagi sebuah kawasan yang ramah pengunjung, ruang untuk menghadap Sang Pencipta tidak boleh luput dari rencana besar penataan.

Secangkir Kopi, Sepotong Lempeng, dan Kenangan

Langkah kaki kami akhirnya tertambat di Kong Djie Coffee.

Suasana di sana sangat ramai, penuh sesak oleh hilir mudik pelanggan yang mencari kehangatan interaksi.

Meskipun daftar menu menawarkan aneka ragam kuliner modern, selera kami tetap setia pada akar tradisi.

Saya, Wahyudi, Herry, dan Haidar menjatuhkan pilihan pada lempeng khas Banjar—kue tradisional sederhana yang terbuat dari tepung terigu dan manisnya pisang mauli.

Di atas meja kopi, di antara tawa dan obrolan hangat, lempeng itu terasa lebih dari sekadar makanan.

Ia adalah pertautan antara modernitas kota dan memori masa kecil yang tak pernah luntur.

Menatap Hari Esok

Perjalanan siang itu menyisakan satu tanya yang penuh optimisme:

Apalagi yang akan ditata dan dipoles oleh Wali Kota Andi Harun setelah ini?

Masyarakat Samarinda tentu menaruh harapan yang tinggi di pundak beliau.

Mengakhiri catatan perjalanan singkat ini, dari lubuk hati yang paling dalam, kita doakan bersama agar Dr. H. Andi Harun senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan, dan berada dalam lindungan Allah SWT untuk terus membangun Samarinda.

Aamiin ya Rabbal Alamin.

(rd)

You may also like