Home FeatureHidup dalam 2 Meter Persegi: Wajah Lain Hong Kong dari Balik Gemerlap Kota Dunia

Hidup dalam 2 Meter Persegi: Wajah Lain Hong Kong dari Balik Gemerlap Kota Dunia

by Redaksi
0 comments

VivaNusantara Feature – Di antara kilau gedung pencakar langit dan denyut finansial Asia, ada ruang-ruang sempit yang nyaris tak terlihat. Di sudut-sudut gedung tua, tersembunyi hunian berukuran 1 hingga 4 meter persegi—cukup untuk berbaring, tapi nyaris mustahil untuk berdiri tegak.

Mereka menyebutnya coffin homes—rumah peti mati.

Foto : Apnews.com

Fenomena hunian super-kecil ini bukan cerita baru di Hong Kong. Praktik subdivided units dan bed-space apartments sudah ada sejak beberapa dekade lalu, namun melonjak tajam setelah krisis properti Asia 1997–1998. Ketika harga rumah melesat jauh melampaui kenaikan upah, ruang hidup menyusut menjadi komoditas paling mahal.

Krisis yang Membelah Dinding

Foto : asiasociety.org

Antara 2010 hingga 2019, harga rumah di Hong Kong melonjak hingga 187 persen. Di sisi lain, upah minimum hanya sekitar US$4,82 per jam. Pada 2021, harga rata-rata apartemen mencapai US$1,3 juta. Artinya, seorang pekerja harus menabung sekitar 21 tahun gaji penuh hanya untuk membeli unit 60 meter persegi.

Di kota dengan 75 persen wilayah berupa pegunungan dan taman lindung, lahan menjadi barang langka. Tekanan pasar pun tak terhindarkan.
Akibatnya, sekitar 200 ribu orang—termasuk 40 ribu anak—hidup di ruang sempit ekstrem. Mereka membayar sewa yang tak murah untuk ukuran ruang yang nyaris tak manusiawi.

Hidup dalam Kotak Kayu

Foto : uk.finance.yahoo.com

Rumah peti mati biasanya berbentuk tempat tidur susun dari kayu lapis dengan pintu geser. Ukurannya berkisar 1,1 hingga 4,6 meter persegi. Ventilasi minim, cahaya matahari nyaris tak masuk, dan kamar mandi serta dapur digunakan bersama puluhan penghuni lain.
Sewa per bulan pada 2016 berkisar HK$1.800 hingga HK$2.500—setara Rp3,7 juta hingga Rp5,2 juta. Harga yang terasa ironis untuk ruang sekecil itu.

Selain coffin homes, muncul pula mikro-apartemen seluas 15–27 meter persegi. Pada 2019, tercatat sekitar 8.500 unit jenis ini, mewakili 7 persen konstruksi baru. Ruang-ruang mungil ini dipromosikan sebagai solusi kreatif, namun bagi banyak penghuni, hidup di dalamnya berarti kompromi besar atas kesehatan fisik dan mental.

Penghuni yang Terpinggirkan

Mayoritas penghuni adalah lansia, pekerja berpenghasilan rendah, pensiunan, hingga individu dengan persoalan kesehatan mental. Sebagian tinggal di gedung-gedung tua kawasan padat penduduk, seperti kompleks-kompleks hunian lawas yang telah lama menjadi simbol kepadatan ekstrem kota ini.

Di balik pintu geser kayu, kehidupan berlangsung dalam sunyi dan keterbatasan. Satu kasur, satu kipas angin kecil, beberapa kantong plastik berisi pakaian—itulah seluruh dunia mereka.

Sisi Gelap Kota Termahal

Hong Kong kerap dipuji sebagai pusat finansial global dengan standar hidup tinggi. Namun di balik gemerlap itu, ada realitas pahit: ruang menjadi kemewahan.
Fenomena coffin homes adalah potret ketimpangan yang nyata—tentang bagaimana kota paling mahal di dunia juga menyimpan ribuan kehidupan dalam ruang paling sempit.

Di sana, mimpi tentang rumah bukan soal halaman luas atau balkon menghadap laut. Cukup ruang untuk duduk tanpa membentur dinding, sudah terasa seperti kemewahan.

Penulis : Tri Wahyuni
Dari berbagai sumber

You may also like