Samarinda – Jatuh cinta, berkomitmen, menikah, lalu berharap hidup bahagia. Itulah mimpi yang sering dielukan hampir setiap pasangan,ketika melangkah mantap menuju mahligai rumah tangga. Tak ada satu pun yang membayangkan perjalanan itu berubah arah, meninggalkan jejak luka, trauma, atau mimpi buruk yang merembes ke kehidupan nyata.
Dua sahabat yang sama-sama menyandang status ibu tunggal tampak menikmati malam di tepian Sungai Mahakam. Sambil memandangi arus yang tenang, keduanya saling berbagi kisah tentang pernikahan yang pernah mereka perjuangkan, tentang romansa yang justru meninggalkan trauma mendalam. Di antara percakapan lirih dan tawa kecil yang memecah sunyi, mereka saling menguatkan, merawat kecewa yang masih menyisakan goresan luka.
Thia, wanita berusia 36 tahun lebih dulu mengalami kegagalan yang tidak hanya sekali dialami, Thia mennyatakan dirinya merasa semakin takut menaruh harapan akan mimpi memiliki keluarga yang bahagia dengan pasangan seumur hidupnya.
“Aku merasa gak pernah layak untuk siapa pun, kegagalan yang berulang membuat aku merasa akulah masalah sebenarnya,” ucap Thia lirih, Kamis, (4/12/2025)
Seakan membenarkan ungkapan tersebut, liana yang berusia satu tahun lebih muda pun merasakan ketakutan yang selalu menggangu hati dan pikirannya. Sembari menyeruput kopi, liana mengatakan ada hal yang tidak perlu dijelaskan dan hanya bisa dipendam.
“Ketika aku yang dianggap egois dan cerewet, membuat pasangan merasakan hidup bagaikan di neraka. Itu yang mantan suami ku ucapkan,” jawab liana dengan suara yang bergetar
Liana mengungkapkan, tidak ada manusia yang benar-benar memahami apa yang dirasakan wanita saat proses perceraian terjadi. Terlebih ketika dalam proses pengadilan sosok wanita yang melakukan gugatan, seolah yang menginginkan perpisahan.
Perpisahan menjadi keputusan yang akan selalu salah bagi sebagian orang.
Thia yang mendengar ucapan sahabatnya menarik nafas panjang, berpikir atas ucapan sahabatnya, ketakutan yang hadir mungkin bukan tanpa alasan, namun lagi-lagi trauma atas luka masalalu masih kuat diingatan yang tidak pernah ingin diulang.
“Aku hanya ingin punya kehidupan yang lebih baik, memberikan pendidikan terbaik untuk anak-anak,” ucap Thia
“Tidak pernah ada yang benar-benar salah, hanya saja tidak ada yang benar-benar memahami kondisi kita sebanarnya,” sambung liana, seolah ingin membesarkan hati sahabatnya
Luka yang dialami bukan untuk dipahami semua orang, tidak ada yang berhak menghakimi, bahkan tidak ada yang benar-benar peduli. Ketika semua isi kepala ibu tunggal hanya memikirkan cara membahagiakan anak-anak yang menjadi tanggungjawab mereka.
Satu kalimat yang dapat memberikan semangat adalah cara wanita membuat dirinya bahagia terlebih dahulu, meskipun ketika keinginan membahagiakan diri justru akan dianggap sebagai sikap egois. Menikah mungkin bukan sebuah langkah yang dapat memastikan seseorang bahagia, namun menikah merupakan langkah untuk berbagi rasa melalui cinta dan kasih sayang.
Bahagia sejatinya sebuah rasa yang dapat diciptakan oleh manusia, dalam bentuk sikap, kata, dan komitmen menjaga hubungan emosional yang positif, dan mampu menghadirkan perasaan bahagia dalam ikatan sakral pernikahan.
Penulis: Ria
Editor: Lisa