Samarinda, VivaNusantara – Gelap malam mengantarkan langkah kaki Dewi, seorang ibu tunggal memasuki istana kecilnya, di sebuah perumahan Jalan AW Syahranie. Perlahan ia membuka pintu rumahnya dengan sejuta peluh di kepalanya.
Namun seketika beban di bahunya itu sirna. Kehadiran Dewi disambut dengan senyum bahagia dari empat malaikat kecil yang lahir dari rahimnya.
Ia pun tak kuasa menahan asa yang ia tumpahkan lewat pelukan hangat dari tangan mungil dan celotehan anak-anaknya itu. Malam itu menjadi saksi, riak tawa yang terdengar nyaring dalam kamar berukuran 3×4 meter.
Banyak cerita yang tergambar dari interaksi yang tersaji, mulai dari aktivitas sekolah hingga ungkapan rasa bangga anak-anak atas kerja keras Dewi sebagai ibu tunggal.
“Kakak bangga punya ibu seperti ibu Dewi” ucap Aqilla, gadis berusia 12 tahun sambil memeluk tubuh Dewi.
“Apa yang membuat kakak bangga,” tanya Dewi pada gadis yang selalu nampak seperti anak kecil dimatanya.
“Ibu itu pahlawan untuk kami, ibu hebat, kuat dan yang pasti ibu gaul,” ucapnya sambil tertawa.
Aqilla mengatakan, banyak teman sebaya yang merasa ingin memiliki ibu seperti ibu Aqilla, ibu yang bisa menjadi pendengar, bersikap santai namun tetap tegas.
Seketika Dewi tersipu malu, namun merasa puas. Kembali Dewi bertanya dengan rayuan
“Serius nih bangga? Apa hanya karena ada maunya?,” tanya Dewi sambil tertawa
“Ih, serius ibu. Ibu itu hebat, meskipun sibuk ibu selalu menyempatkan waktu untuk kami. Dan kami memahami, apa yang ibu lakukan untuk memenuhi kebutuhan kami,” jawabnya, sambil tertawa kecil seolah malu mengakui rasa kagumnya kepada Dewi.
Meskipun sering terlintas keraguan akan keberhasilan mendidik anak-anak, namun upaya Dewi memberikan ruang cinta untuk dapat di pahami anak-anak, dengan membangun pola komunikasi yang baik.
Memikul Beban Ibu Tunggal
Menjadi Ibu tunggal akibat perceraian seringkali dianggap sebagai perempuan yang dianggap egois. Keputusan Dewi melepaskan diri dari ikatan sakral pernikahan yang menggoreskan luka, seakan menjadi sebuah indikator kegagalan personal bagi sebagian orang, menghadirkan stigma moral dalam sosial masyarakat, dan dianggap memiliki perilaku tidak bermoral.
Dalam pola asuh, ibu tunggal seperti Dewi seringkali dianggap sebagai sosok yang tidak mampu membesarkan anak tanpa peran ayah. Tidak jarang ibu tunggal mengalami diskriminasi secara ekonomi dari mantan suami, dengan alasan perpisahan yang diinginkan oleh perempuan. Akibatnya banyak laki-laki yang melepaskan tanggungjawab terhadap anak. Hal tersebut memaksa ibu tunggal menerima tanggung jawab memenuhi hak anak seperti pendidikan, pakan, pakaian, dan perlindungan.
Masyarakat Indonesia, faktanya masih dalam lingkungan yang menganut paham budaya patriaki, Ironisnya, banyak orang yang merasa pantas memberikan arahan hidup meskipun berada pada alur kisah yang berbeda. Merasa seolah lebih memahami berdasarkan keilmuan akademik yang dimiliki, atau menganggap perjalanan hidup yang lebih baik.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang bersumber dari Kementerian Agama RI (Direktorat Jenderal Bimas Islam), tercatat 1.518 kasus cerai talak di Kalimantan Timur. Dari data tersebut, dapat digambarkan pentingnya dukungan sosial kepada ibu tunggal.
Entah, gelar apa yang tepat diberikan kepada perempuan yang hanya mengandalkan dirinya sendiri untuk tetap kuat memerankan tokoh orang tua tunggal. Mulia atau terhina? Kembali pada sudut pandang personal, bahwa ibu juga memiliki perasaan. Ingin hidup bahagia, dan hidup “normal” dimata masyarakat.
Penulis: Ria
Editor: Lisa