Samarinda, VivaNusantara – Pada era digital sekarang, fenomena “curhat ke AI” semakin lazim terutama di kalangan Generasi Z dan Generasi Alpha yang tumbuh bersama smartphone dan internet. Namun, sejumlah studi dan pakar memperingatkan kebiasaan ini menyimpan potensi risiko serius bagi kesehatan mental dan kesejahteraan emosional.
Sebuah kajian yang dipublikasikan di “From Lived Experience to Insight: Unpacking the Psychological Risks of Using AI Conversational Agents” menunjukkan, penggunaan chatbot AI dapat membawa 19 jenis perilaku berisiko termasuk validasi otomatis terhadap perasaan, sugesti emosional, sampai ke “ketergantungan psikologis” terutama pada pengguna dengan kondisi rentan.
Penelitian longitudinal terbaru (2025) dengan 981 peserta menunjukkan, interaksi intens dengan AI terutama melalui mode suara terkait dengan peningkatan rasa kesepian, ketergantungan emosional kepada AI, dan penurunan interaksi sosial dengan manusia nyata.
Risiko tambahan termasuk potensi kesalahan saran, misdiagnosis, serta “self-diagnosis” dan “self-treatment” tanpa konsultasi profesional dan praktik yang dinilai berbahaya oleh para pakar kesehatan mental.
Beberapa laporan menekankan fenomena yang dikenal sebagai AI psychosis yaitu pengguna AI yang mulai mengembangkan delusi, keyakinan bahwa bot itu “benar-benar hidup”, atau ketergantungan emosional berlebihan, bahkan dalam kasus ekstrem memicu krisis mental.
Meski ada studi yang menunjukkan bahwa pada kasus depresi ringan, sedang curhat ke AI bisa membantu pengelolaan awal stres atau kegelisahan misalnya dalam penelitian dengan 1.744 partisipan penulis studi menekankan bahwa AI hanya pelengkap, bukan pengganti terapi manusia.
Generasi Z dan Alpha banyak yang mencari “teman curhat” cepat, mudah diakses, dan tanpa stigma. AI memberi kemudahan ini tersedia 24/7, tidak menghakimi, dan responsif. Fakta ini disebut sebagai salah satu daya tarik utama chatbot.
Namun, untuk remaja atau orang muda yang tengah mencari identitas, sedang mengalami tekanan sosial, atau punya kecemasan, kemudahan dan “kesediaan selalu mendengarkan” dari AI bisa membuat mereka malas mencari dukungan manusia. Menurut pakar, hal ini bisa membuat mereka “menarik diri” dari lingkungan sosial.
Ketika AI dianggap sebagai pengganti teman manusia, kemampuan emosional dan empati terhadap sesama manusia bisa menurun. Ini berisiko mempengaruhi perkembangan sosial terutama pada usia remaja atau dewasa muda.
“Aku merasa AI-nya lebih ngerti aku daripada temen sendiri. Kalau capek, galau, atau bingung, tinggal ketik aja, langsung ada jawaban yang bikin adem. Kalo curhat ke temen aku gaenak, takut mereka terganggu,” ujar Syifa, 19 tahun saat diwawancarai, Selasa (2/12/2025).
Syifa mewakili banyak remaja/sejoli Gen Z atau Alpha yang memilih AI sebagai “pelampiasan emosional”. Menurut dia, AI terasa seperti teman curhat ideal karena tidak menilai atau memandang sebelah mata, selalu tersedia kapan saja, responsnya lembut, bijak, dan menghibur.
“Curhat ke AI nggak salah, asal tahu batasnya. Tapi jangan sampai AI jadi tempat pelampiasan utama sampai kita lupa ada manusia di luar sana,” pungkasnya.
Penulis: Intan
Editor: Lisa