Samarinda, VivaNusantara – Di tengah arus digital yang serbacepat dan padat informasi, generasi muda selama bertahun-tahun identik dengan dunia layar. Tenggelam dalam rutinitas scrolling, doomscrolling, hingga kebutuhan tampil di media sosial.
Namun gelombang baru mulai muncul, Gen Z tak lagi hanya membangun koneksi di ruang virtual, tetapi kini menemukan energi, pertemanan, bahkan identitas diri melalui aktivitas fisik di dunia nyata. Olahraga tidak lagi dianggap sekadar gaya hidup, tetapi sebagai cara untuk merasa hidup, terkoneksi, dan pulih dari tekanan mental era digital.
Perubahan budaya ini terekam dalam laporan tahunan ke-12 Year In Sport: Trend milik aplikasi gaya hidup aktif global Strava, yang dirilis pada 3 Desember 2025 dilansir dari Medcom.id. Dengan menganalisis miliaran aktivitas dari 180 juta pengguna global dan survei terhadap lebih dari 30.000 responden, laporan tersebut menemukan bahwa Gen Z secara kolektif bergerak menjauhi kebiasaan pasif dan mulai memprioritaskan koneksi nyata, kebugaran, dan komunitas.
Data menunjukkan tren positif yang konsisten. Gen Z tidak hanya semakin aktif, tetapi juga mengalokasikan waktu dan finansial untuk kebugaran. Meski 65% Gen Z terdampak inflasi, 30% tetap berencana meningkatkan pengeluaran untuk kebugaran pada 2026.
Bahkan 64% responden lebih memilih membeli perlengkapan olahraga daripada menghabiskan uang untuk berkencan. Fenomena date while exercising juga meningkat, dengan 46% Gen Z menjadikan olahraga sebagai pilihan kencan pertama. Dari berbagai aktivitas, lari menjadi olahraga paling populer, dan dibandingkan Gen X, Gen Z 75% lebih sering menjadikan race atau event sebagai motivasi utama bergerak.
Tren ini juga dirasakan Adryan (25), seorang anak muda yang aktif berolahraga.
“Alhamdulillah trennya sudah bagus. Banyak anak-anak muda yang rajin olahraga. Meskipun dianggap FOMO, tapi FOMO-nya itu positif,” ujarnya saat diwawancarai, Kamis (4/12/2025).
Meski begitu, ia berharap tren olahraga tidak berubah menjadi ajang pamer.
“Olahraga tidak melulu tentang gaya dan barang-barang mahal. Olahraga itu sederhana dan murah. Bahkan ini investasi kesehatan jangka panjang. Manfaatnya memang tidak instan, tapi akan terasa ketika usia kita semakin bertambah,” tegasnya.
Ia juga menyoroti kebiasaan sebagian anak muda yang memaksakan diri membeli apparel mahal demi terlihat sporty.
“Nggak perlu punya perlengkapan bagus untuk memulai olahraga. Jangan sampai karena itu kita mengorbankan apa yang dipunya, sampai berhutang atau pakai pinjol,” tegasnya.
Saat ditanya olahraga favoritnya, Adryan menjawab dengan analogi khas anak muda,
“Lari itu kayak nasi dan bulutangkis itu lauknya,” menggambarkan bahwa ia menganggap lari sebagai kebutuhan utama dan olahraga lain sebagai pelengkap.
Penulis: Intan
Editor: Lisa