Home Life Style“Girl Math” dan Justifikasi Belanja Impulsif di Kalangan Perempuan

“Girl Math” dan Justifikasi Belanja Impulsif di Kalangan Perempuan

by Redaksi
0 comments

Samarinda, VivaNusantara — Tren “girl math”, logika humor di media sosial yang merasionalisasi pembelian seperti “diskon sama dengan hemat besar” atau “harga per pemakaian sangat kecil sama dengan investasi”, kini bisa dipandang bukan sekadar lelucon. Fenomena ini semakin memengaruhi pola belanja impulsif di e-commerce, khususnya di kalangan perempuan muda.

Bank Indonesia mencatat bahwa total transaksi e-commerce pada Januari–Juli 2025 mencapai 466,93 juta transaksi, dengan nilai Rp 44,4 triliun. Rata‑rata transaksi berada di kisaran Rp 95 ribu, menurut laporan Bisnis.com.

Nilai transaksi yang relatif kecil membuka kemungkinan pembelian spontan untuk barang murah atau diskon sesuatu yang sering dijustifikasi dengan logika ala “girl math”.

Dari sisi perilaku konsumen, penelitian lokal memperkuat bahwa motivasi hedonis (belanja untuk kesenangan) dan promosi penjualan (diskon, flash sale) terkait erat dengan pembelian impulsif.

Fenomena peer effect juga relevan. Studi internasional tentang festival belanja “Double 11” menunjukkan bahwa keputusan pembelian impulsif sangat dipengaruhi teman sebaya (peer effect) dan kecenderungan mengikuti kerumunan (herd behavior).

Wardah, perempuan 23 tahun asal Samarinda, menjadi salah satu ilustrasi tren ini. Sebagai pengguna aktif e-commerce dan TikTok Shop, ia mengakui pernah melakukan pembelian impulsif dengan pembenaran ala “girl math”:

“Kadang aku mikir, ‘Oh ini diskon 50 persen, berarti kalau enggak saya ambil sekarang, saya malah rugi.’ Terus habis itu aku cek rasio ‘harga per pemakaian’ di kepala sendiri, dan sepertinya masuk akal. Ya, ini mungkin semacam ‘matematika perempuan’, tapi rasanya wajar buat aku,” ujar Wardah, Sabtu (15/11/2025).

Wardah menambahkan, konten viral di TikTok termasuk promo flash sale sering memicu keputusan membeli sekejap, karena rasanya seperti “investasi kecil-kecilan”, bukan pengeluaran besar.

Walau terdengar lucu, pola justifikasi ala “girl math” bisa meningkatkan risiko finansial jika terus berulang, terutama bila menggunakan metode pay later atau kartu kredit. Kebiasaan kecil bisa menumpuk, dan tanpa pengelolaan anggaran yang tepat, beban utang bisa muncul tanpa disadari.

Penulis: Intan
Editor: Lisa

You may also like