Samarinda, VivaNusantara — Tren penggunaan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) semakin menguat di kalangan Generasi Z. Kelompok usia muda ini menilai pembayaran berbasis scan jauh lebih efisien, aman, dan cocok dengan gaya hidup digital mereka.
Dilansir dari Bank Indonesia, hingga Semester I 2025, QRIS telah digunakan oleh 57 juta pengguna dan terpasang di 39,3 juta merchant, dengan total transaksi menyentuh 6,05 miliar kali senilai Rp579 triliun. Data ini pertama kali dipublikasikan BI dalam laporan resmi kinerja sistem pembayaran medio Juli 2025.
Sejumlah penelitian terbaru juga memperkuat alasan di balik tingginya adopsi QRIS di kalangan Gen Z. Dilansir dari studi akademik yang dirilis melalui arXiv (2025), faktor seperti kemudahan penggunaan (ease of use), manfaat yang dirasakan (perceived usefulness), dan tingkat kepercayaan terhadap keamanan berpengaruh signifikan terhadap keputusan Gen Z menggunakan QRIS. Penelitian yang sama juga menyebut dukungan regulasi turut menjadi pendorong utama.
“Tinggal scan, langsung beres. Gak perlu bawa uang tunai dan pengeluaran gampang dipantau di aplikasi,” ujar Syifa (18) saat diwawancara, Jumat (21/11/2025).
Hal serupa diungkapkan seorang mahasiswi yang rutin memakai QRIS dalam aktivitas sehari-hari. “Kalau nongkrong atau bayar ojek, QRIS selalu jadi pilihan pertama,” tambahnya.
Dinamika penggunaan QRIS juga terlihat pada data media. Dilansir dari IDX Channel, nilai transaksi QRIS sepanjang paruh pertama 2025 tumbuh pesat dibanding tahun sebelumnya, menunjukkan bahwa kanal pembayaran ini makin menjadi preferensi utama anak muda dan pelaku usaha kecil.
Sementara dari sisi perilaku, dilansir dari laporan konsumer digital nasional 2024–2025, Gen Z lebih memilih metode pembayaran instan karena mendukung kebutuhan mereka dalam split bill, donasi cepat, hingga belanja kecil seperti minuman, transportasi, dan jajan harian. Integrasi promo, cashback, serta fitur dompet digital juga disebut sebagai faktor pendorong utama.
Meski begitu, tantangan tetap ada. Dilansir dari penelitian arXiv 2025 yang sama, literasi keuangan digital di sebagian masyarakat masih belum merata. Bahkan sebagian UMKM masih membutuhkan pendampingan agar tidak sekadar memasang QRIS tetapi juga paham penggunaannya.
Penulis: Intan
Editor: Lisa