47
Samarinda, VivaNusantara — Tren global meningkatnya peran perempuan dalam pengambilan keputusan kian menguat dalam satu dekade terakhir. World Economic Forum (WEF) 2025 melaporkan keterlibatan perempuan di jabatan strategis pemerintahan naik paling cepat dibanding periode sebelumnya, terutama di sektor kesehatan, pendidikan, ekonomi publik, serta kebijakan sosial. Penguatan ini tampak dari negara maju hingga berkembang.
Di Indonesia, dinamika serupa juga terlihat. Nama Sherly Tjoanda muncul sebagai salah satu representasi terbaru setelah dilantik sebagai Gubernur Maluku Utara pada 20 Februari 2025, menambah daftar perempuan yang menempati kursi pimpinan daerah.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pola kepemimpinan perempuan bukan lagi sekadar representasi simbolik, tetapi berperan langsung dalam penyusunan arah kebijakan. TIME Magazine menulis bahwa perempuan kini bukan hanya “mengisi ruang,” melainkan “mengubah jalur keputusan strategis di pemerintahan modern.”
Gelombang tersebut semakin mencuri perhatian dunia lewat langkah Wali Kota terpilih New York City, Zohran Mamdani, yang membentuk tim transisi dengan seluruh anggota perempuan. Pengumuman dilakukan pada Rabu (5/11/2025), seperti dilaporkan The Guardian dan CNN International.
1.Lina Khan, mantan Ketua Komisi Perdagangan Federal (FTC) dan regulator antimonopoli paling diperhitungkan di AS.
2.Maria Torres-Springer, mantan Wakil Wali Kota pertama NYC.
3.Grace Bonilla, CEO United Way New York City.
4.Melanie Hartzog, mantan Deputi Wali Kota Bidang Kesehatan dan Layanan Bantuan.
5.Elana Leopold sebagai direktur eksekutif yang memimpin keseluruhan proses transisi.
Keputusan Mamdani menunjuk sosok-sosok berpengalaman ini dinilai sebagai manuver politik yang memperkuat komposisi pemerintahan progresif berbasis inklusi. Tidak sedikit analis menyebut tim ini sebagai “kabinet mini” yang akan menentukan arah kebijakan kota sebelum pelantikan pada 1 Januari mendatang.
Menurut pengamat kebijakan publik dari Columbia University yang dikutip Politico, langkah Mamdani tidak dapat dibaca sebagai simbol belaka. Penunjukan Lina Khan diyakini memberi sinyal kuat bahwa Mamdani ingin melawan dominasi oligarki ekonomi AS melalui pengetatan regulasi monopoli. Sementara sosok seperti Bonilla dan Hartzog memberi fondasi kokoh dari sisi layanan sosial, anggaran kota, hingga program kesehatan publik.
“Tim ini menggambarkan ke mana Mamdani ingin membawa New York City: lebih inklusif, lebih responsif, dan lebih berani mengekang kekuasaan korporasi,” tulis The Guardian.
Meski begitu, pemerintahan Mamdani disebut akan menghadapi jalan terjal. Presiden Donald Trump sebelumnya beberapa kali mengancam akan memangkas dana federal jika Mamdani terpilih.
Walau Trump kemudian menyatakan tetap akan memberikan “dana minimum yang diwajibkan negara,” ketegangan politik antara keduanya diperkirakan masih memengaruhi proses transisi.
Mamdani mengatakan Gedung Putih belum menghubunginya pascapemilu 4 November lalu. Namun ia menyatakan bersedia berdialog untuk kepentingan warga New York.
Penulis: Intan
Editor: Lisa