Aceh Tengah, VivaNusantara — Upaya penanganan darurat bencana di Kabupaten Aceh Tengah kini memasuki titik paling kritis. Publik dikejutkan oleh beredarnya surat resmi Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, pada Minggu (1/12/2025), yang secara terbuka mengakui bahwa pemerintah daerah tak lagi mampu menangani situasi darurat yang terus memburuk.

Potret Haili Yoga, Bupati Aceh Tengah. (Foto: Kabag Forkopimda Aceh Tengah)
Melalui surat bernomor 360/565/BPBD/2025 itu, Pemkab Aceh Tengah meminta dukungan lebih besar dari pemerintah pusat karena kapasitas daerah disebut sudah melampaui batas. Surat tersebut merinci rentetan bencana hidrometeorologi yang melanda sejak 26 November 2025 yang memicu luapan banjir luapan, banjir bandang, hingga tanah longsor yang menghantam banyak kecamatan sekaligus. Pada fase awal, laporan resmi mencatat 15 korban jiwa dan 3.123 kepala keluarga terdampak.
Namun situasi berubah dramatis hanya dalam hitungan hari. Data terbaru per 1 Desember 2025 menunjukkan eskalasi dampak yang sangat besar.
Sebanyak 442 korban meninggal, 402 orang masih hilang, dan 292.000 warga terpaksa mengungsi. Angka-angka ini menegaskan bahwa Aceh Tengah sedang menghadapi salah satu krisis bencana terbesar dalam sejarah wilayah tersebut.
Selain korban manusia, kerusakan infrastruktur dinyatakan parah. Sedikitnya 59 ruas jalan dilaporkan sulit dilalui, sejumlah desa terisolasi, dan akses logistik terhambat. Krisis air bersih, bahan bakar minyak (BBM), serta keterbatasan layanan kesehatan semakin memperburuk proses evakuasi. Hingga hari ini, layanan medis masih baru menjangkau sebagian kecil kelompok rentan seperti balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.
Meski bantuan dari pemerintah provinsi dan pusat mulai masuk melalui jalur udara, distribusinya belum dapat mengimbangi kebutuhan di lapangan. Saluran darat belum dapat digunakan karena sejumlah area tertutup lumpur dan material longsor.
Penulis: Intan
Editor: Lisa