Samarinda, VivaNusantara – Aroma menyengat tercium dari aliran Bendungan Benanga, Jalan Rejo Mulyo RT 31, Kelurahan Lempake, Kecamatan Samarinda Utara. Kondisi ini dikeluhkan warga, terutama saat debit air menurun akibat musim kemarau.
Hasil peninjauan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda menemukan adanya persoalan pengelolaan limbah dari salah satu pelaku usaha di sekitar aliran sungai.
Plt Kepala Bidang Penaatan DLH Samarinda, Rifqi Helm, mengatakan air limbah yang ditampung dalam sejumlah bak masih berpotensi mengalir ke sungai.

Petugas DLH Samarinda bersama Bhabinkamtibmas dan Babinsa Kelurahan Lempake memeriksa salah satu pabrik tahu di Jalan Rejo Mulyo. Foto: Nain
“Bak-bak penampungan itu hanya untuk menampung, bukan untuk diolah. Dari hasil tampungan itu masih mengeluarkan air limbah ke sungai,” jelas Rifqi, Rabu (16/9/2026).
Atas temuan tersebut, DLH meminta pelaku usaha menghentikan sementara pembuangan air limbah ke sungai. Air limbah yang sudah tertampung selanjutnya diminta disedot menggunakan layanan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Samarinda.
DLH juga akan melakukan pembinaan agar pengelolaan limbah usaha dilakukan sesuai ketentuan.
Rifqi menjelaskan, limbah dari aktivitas usaha tersebut terdiri atas limbah padat dan cair. Limbah padat diarahkan untuk dikelola atau dimanfaatkan melalui pihak yang sesuai, sedangkan limbah cair harus melalui pengelolaan yang tepat sebelum dilepas ke lingkungan.
Warga Keluhkan Bau Sepekan
Keluhan bau telah dirasakan warga sekitar selama kurang lebih sepekan. Nur Kasiyati, salah seorang warga, mengatakan aroma tak sedap semakin terasa ketika aliran air tidak lancar.
Menurutnya, kondisi tersebut turut berdampak pada aktivitas warga yang menjalankan usaha di sekitar lokasi.
“Kalau jualan tetap, kadang ramai kadang sepi. Tapi kalau orang makan di sini jarang, karena dampak bau itu,” ujar Nur.
Selain persoalan limbah usaha, warga juga menyoroti kebiasaan membuang sampah langsung ke sungai.
Nur menyebut aktivitas tersebut masih terjadi, bahkan pada malam hari.
“Kadang jam 1, jam 2 malam orang buang sampah. Dari mana-mana orang buang langsung ke dalam,” ungkapnya.
Kondisi kemarau membuat persoalan semakin terasa. Debit air yang rendah dan aliran yang tidak optimal menyebabkan limbah maupun sampah yang masuk ke sungai berpotensi lebih lama tertahan dan menimbulkan bau.
Warga berharap penanganan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pengawasan pembuangan limbah, perbaikan aliran air hingga penertiban kebiasaan membuang sampah sembarangan. (*/Nain)
Editor : TW