Samarinda, VivaNusantara — Kalimantan Timur menghadapi tekanan serius terhadap kawasan hutannya, meski aktivitas sektor kehutanan melambat. Deforestasi terus meningkat, terutama akibat ekspansi perkebunan, pertambangan, penebangan ilegal, dan pembangunan infrastruktur, termasuk proyek Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara. Kondisi ini menempatkan Kaltim sebagai provinsi dengan angka kehilangan hutan tertinggi di Indonesia pada 2024.
Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud menegaskan, perlambatan sektor kehutanan saja tidak cukup menurunkan ancaman deforestasi. Sebab pembukaan lahan kini lebih banyak dipicu oleh sektor ekstraktif lainnya.
“Perlambatan sektor kehutanan saja tidak cukup. Kita membutuhkan strategi baru untuk menekan pembukaan lahan, terutama yang memicu hilangnya hutan sekunder,” ungkap Rudy, Rabu (26/11/2025).
Rudy menyebut, meskipun Kaltim masih memiliki sekitar 8,5 juta hektare kawasan hutan, pengelolaan yang lebih berkelanjutan sangat diperlukan.
“Hutan kita masih sangat luas, sekitar 8,5 juta hektare. Saat ini kegiatan sektor kehutanan sedikit melambat karena harga kayu murah. Kita berdoa agar hutan kita tetap terjaga,” ujarnya.
Menurutnya, tekanan terbesar kini datang dari industri perkebunan, pertambangan, penebangan ilegal, hingga pembangunan infrastruktur.
Pernyataan Rudy muncul di tengah publikasi data terbaru yang menempatkan Kalimantan Timur sebagai provinsi dengan angka deforestasi tertinggi di Indonesia pada 2024. Kaltim tercatat kehilangan 175,4 ribu hektare hutan netto, dihitung dari deforestasi bruto sebesar 216,2 ribu hektare dikurangi reforestasi hanya 40,8 ribu hektare.
Data tersebut menunjukkan bahwa 92,8 persen kerusakan terjadi pada hutan sekunder, dan 69,3 persen berada di dalam kawasan hutan. Ekspansi perkebunan sawit, pertambangan, pembangunan infrastruktur, termasuk proyek Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara, disebut sebagai faktor utama penyebabnya.
Laporan Global Forest Watch juga mencatat bahwa sepanjang 2001–2024, Kaltim telah kehilangan 3,1 juta hektare tutupan pohon, setara 27 persen dari total luas tutupan pohon tahun 2000. Daerah yang paling terdampak adalah Kutai Timur, dengan kehilangan sekitar 920 ribu hektare atau 51 persen dari total kehilangan di provinsi ini.
Rudy menegaskan bahwa persoalan deforestasi bukan sekadar angka melainkan masa depan lingkungan yang harus diberi perhatian lebih.
“Ini bukan hanya soal data tahunan, tetapi tentang masa depan lingkungan dan generasi mendatang,” pungkasnya.
Penulis: Ain
Editor: Lisa