Samarinda, VivaNusantara — Di usia 20-an, banyak anak muda justru terseret dalam situasi penuh kebingungan, cemas, dan tekanan batin. Harapan untuk segera punya karier mapan, keuangan stabil, penampilan ideal, dan “jalan hidup jelas” membuat masa muda terasa bukan lagi ajang pencarian jati diri melainkan beban nyata. Fenomena ini dikenal sebagai _quarter-life crisis_, dan kini makin relevan di kalangan perempuan muda di Indonesia.
_Quarter-life crisis_ adalah fase transisi dari remaja menuju dewasa awal (sekitar umur 18–30 tahun) di mana seseorang sering diliputi kecemasan tentang masa depan: karier, keuangan, relasi, dan identitas diri.
Sebuah studi terbaru berjudul _“Social Comparison and Quarter‑Life Crisis in Generation Z, A Study of Instagram Users”_ (2025) oleh Maharani & Merida menemukan korelasi positif yang signifikan antara kecenderungan membandingkan diri lewat media sosial (social comparison) dengan tingkat _quarter-life crisis_ pada pengguna aktif Instagram di Bekasi. Dalam sampel 164 responden (usia 20–28 tahun), koefisien korelasi ditemukan semakin tinggi kecenderungan membandingkan diri, semakin tinggi tingkat quarter-life crisis.
Selain itu, faktor eksternal seperti kondisi ekonomi yang tidak stabil, ketidakpastian pasar kerja, serta minimnya dukungan sosial turut memperbesar risiko _quarter-life crisis_ di kalangan generasi Z.
Contoh nyata, Tan (23 tahun), perempuan muda asal Samarinda, mengaku merasa tertekan sejak lulus kuliah. Ia sering membuka media sosial di malam hari dan melihat teman-teman sebayanya tampak “lebih dulu memiliki segalanya”: kerjaan tetap, pacar/pendamping, rumah sendiri, liburan, dan gaya hidup ideal. “Kadang aku mikir, kenapa aku belum bisa seperti mereka? Apa aku salah jalan?” kata Tan, Rabu (26/11/2025).
Tan bukan satu-satunya. Banyak Gen Z lain merasakan hal serupa, perasaan “tersesat” antara tuntutan ekonomi, harapan keluarga, keinginan bebas, dan realitas yang belum sejalan.
Media sosial dan perbandingan sosial Konten pencapaian, gaya hidup, dan “kesuksesan instan” di media sosial membuat standar pencapaian terasa sangat tinggi. Saat melihat teman seumuran tampak sukses di Instagram, banyak Gen Z merasa tertinggal.
Ketidakpastian ekonomi dan persaingan kerja Pasar kerja yang kompetitif, sulitnya mendapat kontrak tetap, dan ketidakpastian finansial membuat tekanan untuk cepat “mapan” terasa nyata.
Kurangnya dukungan sosial dan lingkungan sosial yang menekan, Tekanan dari keluarga, harapan masyarakat, dan minimnya ruang curhat membuat banyak perempuan muda merasa sendirian dalam kebingungan mereka.
Bagi sebagian orang, mengatasi quarter-life crisis berarti mencari dukungan: dari teman, keluarga, atau komunitas yang mengerti. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial dari lingkungan (keluarga, teman, komunitas) bisa menjadi penolong penting dalam mengurangi dampak negatif _quarter-life crisis._
Selain itu, beberapa Gen Z memilih untuk mengatur ulang ekspektasi dengan memperlambat tempo hidup, menunda target keuangan atau karier, fokus pada kesehatan mental, atau bahkan eksplorasi karier non-konvensional sebagai bentuk adaptasi.
Penulis: Intan
Editor: Lisa