Home DaerahKabupaten Kutai KartanegaraLahan Bekas Tambang Disulap Jadi Kebun Kayu Putih, Cara PT MSA Pulihkan Alam dan Ekonomi Warga

Lahan Bekas Tambang Disulap Jadi Kebun Kayu Putih, Cara PT MSA Pulihkan Alam dan Ekonomi Warga

by Redaksi
0 comments

Kukar, VivaNusantara – Di balik aktivitas sektor pertambangan yang dijalankan PT Multi Sarana Avindo (MSA), tersimpan komitmen kuat terhadap pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), perusahaan ini berinisiatif menghadirkan pemanfaatan lahan bekas tambang, untuk penanaman kayu putih sebagai bentuk reklamasi produktif dan berkelanjutan.

Manager CSR PT Multi Sarana Avindo, Agung Hasanudin menjelaskan perusahaan ingin memastikan kegiatan tambang tidak meninggalkan ruang kosong setelah berakhirnya operasi. Salah satu langkah strategis yang diambil adalah mengubah area bekas tambang menjadi kawasan hijau yang memiliki nilai ekonomi bagi warga sekitar.

“Kami berkolaborasi dengan pihak teknis dalam penyusunan Rencana Penutupan Tambang (RPT). Di situ kami melihat peluang untuk menjadikan reklamasi bukan sekadar menanam pohon, tapi menciptakan sumber ekonomi baru bagi masyarakat,” ujar Agung, Selasa, (7/9/2025).

Program CSR unggulan PT MSA ini memanfaatkan lahan sekitar 70 hektare yang mencakup daratan dan bekas void. Ribuan pohon kayu putih ditanam dan dikelola bersama warga, dari pembibitan hingga penyulingan minyak secara mandiri.

“Masyarakat di sini pada dasarnya adalah petani. Maka dari itu, ketika program ini dijalankan, mereka cepat beradaptasi. Kami juga memberikan edukasi dan pelatihan tentang perawatan tanaman hingga penyulingannya,” jelasnya.

Dari hasil penyulingan, PT MSA memproduksi dua jenis produk utama, minyak kayu putih murni yang dipasarkan melalui kerja sama dengan eksportir, serta produk kemasan kecil yang dikelola oleh UMKM binaan sebagai cenderamata bagi wisatawan. Ke depan, kawasan reklamasi ini juga akan dikembangkan menjadi agrowisata sehat yang mempertemukan aspek edukasi, lingkungan, dan ekonomi.

Selain itu, limbah hasil penyulingan berupa air hidrosol dimanfaatkan untuk pembuatan sabun ramah lingkungan seperti sabun cuci piring yang aman bagi tanaman. Produk ini dikelola oleh 12 kelompok tani binaan CSR MSA, yang dilatih agar mampu berproduksi secara mandiri dan berkelanjutan.

“Produk sabun ini kami dorong sebagai hasil kreatif masyarakat. Jadi bukan hanya lingkungan yang pulih, tapi juga ekonomi warga ikut tumbuh,” pungkasnya.

Penulis: Intan
Editor: Lisa

You may also like