Samarinda, VivaNusantara – Intensitas hujan yang meningkat di Samarinda memaksa pemerintah kota mengubah pendekatan dalam penanganan banjir. Tahun ini, kebijakan kesiapsiagaan tidak lagi bertumpu pada respons reaktif, melainkan pada pembacaan data meteorologi harian yang dijadikan dasar penentuan risiko.
Wali Kota Samarinda Andi Harun menyebut, karakter wilayah kota yang sensitif terhadap perubahan cuaca membuat ambang bahaya banjir relatif rendah. Curah hujan dalam durasi singkat sudah cukup memicu genangan di sejumlah kawasan yang selama ini dikenal rawan.
“Kita gunakan data meteorologi sebagai parameter. Curah hujan di atas 50 milimeter saja sudah cukup untuk menimbulkan genangan di titik-titik rawan,” ujar Andi Harun, Jumat (12/12/2025).
Menurutnya, potensi bahaya meningkat signifikan ketika hujan turun secara beruntun. Akumulasi curah hujan dalam beberapa hari dinilai menjadi faktor penentu perubahan skala bencana, dari genangan menjadi banjir besar yang berdampak luas.
“Kalau dua sampai tiga hari akumulasinya bisa mencapai 100 milimeter, ancamannya bukan lagi genangan, tapi banjir besar. Karena itu koordinasi dengan kecamatan dan kelurahan kita perketat, terutama di lokasi yang memiliki riwayat longsor,” tegasnya.
Di tengah peningkatan kesiapsiagaan tersebut, orang nomor satu di Samarinda ini juga menyoroti pentingnya pengelolaan informasi kebencanaan di ruang publik. Andi Harun menilai, penyampaian risiko harus tetap proporsional agar tidak memicu kepanikan warga.
“Bencana itu sifatnya tidak bisa diprediksi. Maka yang wajib dilakukan adalah menyiapkan diri, belajar tanda-tandanya, dan tetap tenang,” katanya.
Sementara itu, dari sisi teknis, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda masih mengerjakan sejumlah proyek pengendalian banjir jangka menengah. Salah satunya pembangunan folder di kawasan Sungai Siring, dekat Bandara APT Pranoto, yang dirancang mencakup area sekitar 70 hektar.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Samarinda, Mashul Akbar Sukamto, menyebut proyek tersebut masih terkendala pada proses pembebasan lahan yang belum sepenuhnya rampung.
“Pembebasan lahannya sudah dimulai sejak 2024, tetapi memang masih ada beberapa bidang yang belum tuntas. Prosesnya terus bergerak,” tutup Akbar.
Penulis: Ellysa
Editor: Lisa