Samarinda, VivaNusantara – Memasuki akhir tahun, sejumlah median jalan kembali dipoles Pemkot Samarinda. Meski kegiatan ini berulang kali dilakukan, nyatanya menurut pertimbangan keselamatan harus rombak lagi.
Kondisi ini terjadi di trotoar Jalan Kesuma Bangsa, tepat di depan Dinas Perpustakaan Kota. Tak kurang dari Rp194,4 juta digelontorkan oleh Pemkot Samarinda melalui untuk memperbaiki trotoar tersebut.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Samarinda Desy Damayanti memastikan bahwa alasan pengerjaan bukan sekadar estetika atau keberlanjutan program tahunan, melainkan karena adanya ancaman keselamatan yang mendesak.
Pekerjaan tersebut tertuang dalam kontrak Pemeliharaan Rutin Jalan Paket 40 / Trotoar Jalan Kesuma Bangsa Segmen Dinas Perpustakaan, Nomor 620/SPK/01.0046.040/100.07/2025, yang diteken pada 29 Oktober 2025. Proyek ini masuk skema Penunjukan Langsung (PL) mengingat nilai kontraknya berada di bawah batasan PL dan bukan merupakan pekerjaan berskala besar.
Desy, mengungkapkan bahwa trotoar di kawasan tersebut sudah berada dalam kondisi mengkhawatirkan. Struktur lama yang dibangun ketika Jalan Kesuma Bangsa awal kali ditata disebutnya tidak pernah mendapatkan perbaikan berarti selama bertahun-tahun.
“Kami menemukan bagian yang berpotensi membahayakan pejalan kaki. Kondisinya sudah tidak bisa dibiarkan begitu saja, terlebih kawasan itu ramai dilewati pelajar dan pengunjung perpustakaan,” ujar Desy, Selasa (2/12/2025).
Ia menegaskan bahwa yang dilakukan bukan pekerjaan drainase atau peningkatan badan jalan. Fokus proyek ini, kata Desy, adalah memperkuat kembali struktur trotoar agar mampu menopang aktivitas harian masyarakat.
Sebelum memutuskan intervensi, PUPR melakukan evaluasi pada beberapa titik trotoar Kesuma Bangsa. Beberapa segmen telah diperbaiki lebih dulu, sedangkan bagian depan Perpustakaan Kota menjadi titik terakhir yang masuk kategori prioritas.
“Segmen lain sudah kami amankan. Yang di depan Perpus ini yang paling rawan. Makanya kami percepat agar selesai tahun ini,” jelasnya.
Trotoar tersebut diketahui sering dilalui murid sekolah, mahasiswa, serta warga yang beraktivitas di fasilitas publik sekitar. Karena itu, menurut Desy, aspek keselamatan publik menjadi pertimbangan paling dominan.
“Tugas kami adalah memastikan area pedestrian tetap aman. Kalau ada bagian yang melemah strukturnya, kami harus lakukan tindakan segera,” tambahnya.
Meski lingkup pekerjaannya tidak luas, Desy menyebutkan bahwa PUPR memasang tenggat waktu penyelesaian hingga 31 Desember 2025. Ia memastikan pekerjaan dikerjakan berlapis untuk menjaga kualitas agar tidak sekadar menutup lubang atau mengganti paving.
“Ini memang bukan proyek besar, tetapi standar keamanannya tetap harus terjaga. Trotoar itu kan ruang publik, bukan sekadar akses tambahan,” tegasnya.
Desy mengingatkan bahwa kerusakan fasilitas pejalan kaki dapat menimbulkan dampak lebih serius daripada yang dibayangkan. Mulai dari risiko cedera, terganggunya akses siswa menuju sekolah, hingga hambatan aktivitas di sekitar Perpustakaan Kota.
Penulis: Ellysa
Editor: Lisa