Samarinda, VivaNusantara – Jari-jemari kita kini lebih sibuk menari di atas layar ponsel. Instagram, TikTok, hingga Twitter jadi tempat pelarian, demi mencari suntikan dopamin instan dari aktivitas scroll tanpa henti.
Obrolan pun mulai bergeser. Bukan lagi tentang apa yang terjadi di dunia nyata, melainkan soal siapa yang viral, siapa yang sedang trending di linimasa.
Fenomena ini, yang dianggap lumrah oleh banyak orang, ternyata menyimpan masalah serius: brain rot, istilah yang kini ramai diperbincangkan di dunia psikologi digital. Secara harfiah berarti “pembusukan otak”, brain rot merujuk pada kondisi turunnya fungsi kognitif akibat konsumsi berlebihan terhadap konten ringan, cepat, dan dangkal, seperti yang marak ditemui di media sosial.
Otak manusia merespons “reward” berupa dopamin, zat kimia yang membuat kita merasa senang. Setiap kali kita menerima notifikasi, menyaksikan video lucu, atau mendapat like, otak menerima suntikan dopamin instan.
“Jangan biarkan otak membusuk karena konten tidak berkualitas,” dikutip dari website RS Marzoeki Mahdi, oleh psikolog Artika Mulyaning Tyas.
Remaja dan bahkan orang dewasa kini menghabiskan berjam-jam setiap hari terpapar konten pendek reels, TikTok, YouTube Shorts yang rata-rata berdurasi 15 hingga 60 detik. Efeknya? Rentang fokus menurun, kemampuan berpikir kritis melemah, dan otak terbiasa untuk tidak tahan terhadap kebosanan.
Di kantor-kantor, brain rot menjelma dalam bentuk lain, pegawai yang sulit fokus saat rapat, cepat bosan membaca laporan panjang, dan cenderung impulsif dalam mengambil keputusan. Di rumah, orang tua kehilangan koneksi emosional dengan anak karena sibuk dengan scroll medsos. Di kampus, mahasiswa mulai enggan membaca buku tebal dan lebih memilih ringkasan AI atau cuplikan video di TikTok.
Brain rot kini bukan sekadar soal kecanduan. Ini adalah perubahan pola pikir dan cara hidup.
Penelitian dari American Psychological Association mencatat bahwa paparan berlebih terhadap media sosial mempercepat kelelahan mental, meningkatkan kecemasan sosial, dan menurunkan kapasitas kerja otak untuk tugas-tugas analitis.
Beberapa tanda umum brain rot, yang kini mulai dikenali antara lain:
1. Kesulitan membaca atau menyelesaikan tulisan panjang
2. Tidak tahan terhadap keheningan atau bosan tanpa gadget
3. Menunda pekerjaan hanya untuk scroll media sosial
4. Merasa gelisah atau kosong saat tidak memegang HP
5. Pikiran terasa “kabur” dan sulit fokus dalam percakapan nyata
Meski terkesan mengerikan, brain rot bukanlah vonis permanen. Seperti otot, otak bisa dilatih kembali. Salah satunya, dengan detoks digital.
Apa yang perlu dilakukan?
1. Batasi waktu media sosial maksimal 1–2 jam per hari
2. Jadwalkan no screen time, setiap pagi dan malam
3. Latih otak membaca buku panjang atau mendengar podcast edukatif
4. Lakukan aktivitas fisik untuk menyegarkan sistem saraf
5. Perbanyak interaksi tatap muka
Yang dibutuhkan adalah kesadaran, bukan larangan. Otak manusia sangat adaptif. Untuk itu, sangat diperlukan asupan yang sehat, atas diri kita sendiri.
Penulis: Ellysa
Editor: Lisa