Samarinda, VivaNusantara – PT Perkebunan Nusantara IV (PalmCo), subholding BUMN dari PTPN III, mengubah paradigma industri ini lewat investasi strategis di bidang pendidikan. Salah satu upaya nyatanya adalah program PalmCo Scholarship, yang kini menyasar generasi muda dari berbagai daerah, termasuk Kalimantan Timur.
Direktur SDM & TI PalmCo, Suhendri, menyampaikan bahwa PalmCo bukan lagi sekadar perusahaan perkebunan. Kini, perusahaan BUMN itu menjelma menjadi pemain utama dalam upaya konservasi, energi terbarukan, dan penguatan SDM nasional.
“Kami perusahaan perkebunan sawit terbesar di dunia. Kami sadar besarnya tanggung jawab itu harus diimbangi dengan praktik yang patuh aturan. Sawit bisa zero waste, bisa mendukung dekarbonisasi, dan bisa menjadi energi alternatif masa depan,” tegas Suhendri, usai talkshow bertajuk Next Gen Leaders, di Universitas Mulawarman Samarinda, Selasa (17/6/2025).
Ia mengakui bahwa citra negatif sawit banyak dipengaruhi isu lingkungan dan sosial yang sebagian berasal dari praktik buruk di masa lalu. Namun PalmCo, kata Suhendri, justru mengambil jalan berbeda dengan menjadi “flag carrier” perusahaan teladan yang membuktikan bahwa industri sawit bisa berkelanjutan dan beretika.
“Semua limbah kami olah ulang, semua praktik kami dokumentasikan, dan kami transparan. Tapi itu belum cukup. Kami juga ingin melahirkan generasi baru pemimpin yang bisa mengubah wajah industri dari dalam,” tuturnya.
Salah satu bentuk komitmen itu diwujudkan lewat PalmCo bersama BenihBaik.com, melalui scholarship yang hingga kini telah menjangkau lebih dari 1.300 mahasiswa, di seluruh Indonesia, dengan nilai bantuan pendidikan dan infrastruktur lebih dari Rp60 miliar.
Beasiswa ini tidak hanya menyasar anak-anak dari kota besar, tapi juga mereka yang tinggal di sekitar wilayah operasional kebun sawit. Bagi Suhendri, ini adalah langkah strategis untuk menjembatani harapan dan kesempatan, khususnya bagi generasi yang selama ini termarginalkan.
Andy F Noya, jurnalis senior sekaligus pendiri BenihBaik.com, menguatkan narasi tersebut. Dalam pengalamannya memandu program sosial, ia menyaksikan sendiri bagaimana anak-anak berpotensi tinggi di berbagai daerah tidak mendapatkan akses pendidikan hanya karena kondisi ekonomi dan geografis.
“Kita tahu betapa sulitnya mengakses dana dari APBN. Maka peran perusahaan dan komunitas menjadi sangat penting. PalmCo memahami bahwa mimpi anak-anak di pelosok itu sama berharganya dengan mereka yang tinggal di pusat kota,” tutup Andy.
Penulis: Ellysa
Editor: Lisa