Samarinda, VivaNusantara – Proses penyusunan buku Muatan Lokal (Mulok) jenjang SMA di Kalimantan Timur segera rampung. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim baru saja menuntaskan uji keterbacaan untuk buku Fase F Kelas XII, tahap terakhir sebelum resmi diterbitkan pada tahun pelajaran 2026.
Sub Koordinator Kurikulum dan Penilaian SMA Disdikbud Kaltim, Atik Sulistiowati, menyebut hasil uji menunjukkan capaian tinggi di tiga bidang. Buku Sumber Daya Alam meraih nilai 93 persen, Seni Budaya 97 persen, dan Bahasa Daerah 95 persen. Semua dinyatakan siap cetak.
“Setelah pelaksanaan uji keterbacaan ini, kami menerima banyak masukan dari publik dan para penelaah. Ketiga ranah tersebut telah mendapatkan rekomendasi untuk layak terbit. Masukan yang diterima hari ini akan segera kami tindak lanjuti sebelum menyerahkan naskah final ke penerbit,” ujar Atik.
Ia menambahkan, penyusunan buku ini sudah berlangsung sejak 2022, dimulai dari perumusan kurikulum dan silabus dasar. Buku kelas X (Fase E) digunakan pada 2024, disusul kelas XI pada 2025, dan kini kelas XII yang siap digunakan tahun depan.
“Untuk tahun ini total penulisnya ada 20 orang. Kami menargetkan bulan ini seluruh naskah sudah final agar bisa masuk ke penerbit bulan depan, sehingga awal tahun pelajaran 2026 buku sudah siap digunakan,” tambahnya.
Penelaah buku, Yuni Utami, menjelaskan bahwa penyusunan buku muatan lokal ini merupakan tindak lanjut kebijakan nasional yang memberi ruang bagi daerah mengembangkan kurikulum sesuai karakter lokal.

Tim Penelaah Yuni Utami & Nurul Fitriyah Sulaeman. (Foto: HO)
“Penyusunan dokumen kurikulumnya dimulai pada 2022, lalu dilanjutkan workshop penyusunan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) di 2023 untuk kelas X. Tahun berikutnya untuk kelas XI, dan tahun ini untuk kelas XII,” jelas Yuni.
Kaltim akhirnya menetapkan tiga ranah utama yaitu Bahasa Daerah, Sumber Daya Alam, dan Seni Budaya yang dianggap paling mewakili kekhasan daerah.
“Tiga tema itu dipilih karena paling mencerminkan kekhasan Kalimantan Timur. Kita ingin siswa mengenal bahasa, sumber daya, dan budaya lokalnya secara berimbang,” katanya.
Yuni menyebut, penyusunan buku ini melibatkan akademisi, komunitas lokal, dan penutur asli bahasa daerah. Namun tidak semua ide bisa dimasukkan karena keterbatasan ruang dan struktur kurikulum.
“Semua ide kami tampung dan fasilitasi, meskipun porsinya tidak selalu sama. Misalnya komunitas mangrove ingin mendapat porsi besar, tetapi kita atur agar semua unsur lokal mendapat kesempatan tampil secara merata,” ujarnya.
Penyusunan dilakukan empat kali pertemuan tatap muka setiap tahun, masing-masing berlangsung tiga hingga empat hari dengan target yang jelas.
“Biasanya, penulis menyiapkan versi Bahasa Indonesianya lebih dulu, baru diterjemahkan ke bahasa daerah. Setelah diterjemahkan, masih ada revisi dari penutur asli,” ungkapnya.
Dalam buku Bahasa Daerah, tema utama seperti kekayaan alam dan wisata tetap sama, namun bagian cerita rakyat disesuaikan dengan asal suku.
“Cerita rakyat Dayak berbeda dengan Berau atau Paser. Kami tidak mencampur, tapi menampilkan kekhasan tiap daerah,” jelas Yuni.
Ia berharap buku ini menjadi sarana bagi siswa mengenal dan mencintai identitas daerahnya.
“Kami ingin buku ini tidak hanya jadi bahan ajar, tapi juga sarana untuk menumbuhkan kebanggaan terhadap tradisi dan budaya lokal,” ujar Yuni.
Atik menegaskan muatan lokal berperan penting dalam pembentukan karakter siswa Kaltim.
“Kami berharap pelajaran muatan lokal bisa menjadi ruang belajar yang membuat siswa bangga terhadap tradisi daerah, menghormati keberagaman, dan memahami kekayaan budaya Kaltim secara mendalam,” pungkasnya.
Penulis: Ain
Editor: Lisa