Samarinda, VivaNusantara – Upaya memperkuat kerukunan dan membangun ruang dialog di tengah keberagaman masyarakat Samarinda mendapat ruang baru. Rumah Moderasi resmi diluncurkan di Warung Pojok Gusdur, Jalan Eri Suparjan, Perumahan Cluster Etam No. A1, Kamis (24/9/2026).
Rumah Moderasi tersebut dibuka oleh Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Samarinda, Syaparudin. Sejumlah tokoh masyarakat dari beragam latar belakang turut hadir, termasuk unsur Tim Wali Kota Akselerasi untuk Pembangunan Kota Samarinda (TWAP).
Mengusung semangat menjembatani keberagaman dan menguatkan persaudaraan, Rumah Moderasi diharapkan menjadi ruang terbuka bagi masyarakat untuk bertemu, berdialog dan membangun pemahaman di tengah perbedaan.

Ketua FKUB Samarinda Syaparudin bersama tokoh masyarakat dari beragam latar belakang dan unsur TWAP saat launching Rumah Moderasi di Warung Pojok Gusdur, Jalan Eri Suparjan, Perumahan Cluster Etam No. A1, Samarinda, Kamis (24/9/2026). Rumah Moderasi mengusung semangat menjembatani keberagaman dan menguatkan persaudaraan.
Suasana launching berlangsung dalam semangat kebersamaan. Para tokoh yang hadir tidak hanya datang untuk meresmikan sebuah ruang, tetapi juga membawa gagasan agar Rumah Moderasi dapat menjadi tempat bertemu berbagai elemen masyarakat tanpa sekat latar belakang.
Syaparudin mengatakan, moderasi bukan sekadar konsep yang dibicarakan, tetapi perlu diwujudkan melalui perjumpaan, komunikasi dan kerja bersama.
Menurutnya, keberagaman masyarakat merupakan kenyataan yang harus dirawat. Perbedaan latar belakang, keyakinan maupun pandangan tidak semestinya menjadi alasan untuk saling menjauh.
“Rumah Moderasi ini kita harapkan menjadi ruang bersama untuk menjembatani keberagaman. Kita bisa berbeda latar belakang, tetapi tetap bisa duduk bersama, berdialog dan menguatkan persaudaraan,” ujar Syaparudin.
Ia menilai ruang dialog seperti ini penting untuk menjaga kehidupan masyarakat tetap harmonis. Berbagai persoalan sosial maupun keagamaan dapat dibicarakan secara terbuka dengan mengedepankan sikap saling menghormati.
Rumah Moderasi juga diharapkan tidak berhenti sebagai simbol atau tempat kegiatan seremonial. Ke depan, ruang tersebut dapat diisi dengan diskusi, edukasi, kegiatan lintas komunitas serta berbagai aktivitas yang mendorong toleransi dan kebersamaan.
Kehadiran tokoh masyarakat dari berbagai latar belakang dalam launching menjadi bagian dari semangat tersebut. Perbedaan tidak dijadikan sekat, tetapi dipertemukan untuk mencari titik temu dan membangun komunikasi.
Bagi Samarinda yang memiliki masyarakat dengan latar belakang beragam, Rumah Moderasi diharapkan dapat menjadi salah satu ruang untuk memperkuat persaudaraan sekaligus menjaga suasana kota tetap rukun.
Launching ini menjadi langkah awal untuk membangun ruang yang hidup dan terbuka. Harapannya, Rumah Moderasi bukan hanya menjadi tempat berbicara tentang moderasi, tetapi benar-benar menjadi ruang masyarakat untuk menjembatani keberagaman, menguatkan persaudaraan, dan merawat kerukunan.(*/Vn)
Editor : Tw