Home DaerahKota Samarinda“Erika” dan Retaknya Nalar Kampus: Saat Guyonan Berubah Jadi Normalisasi Pelecehan

“Erika” dan Retaknya Nalar Kampus: Saat Guyonan Berubah Jadi Normalisasi Pelecehan

by Redaksi
0 comments

Samarinda, VivaNusantara – Video penampilan Orkes Semi Dangdut (OSD) Himpunan Mahasiswa Tambang (HMT) Institut Teknologi Bandung kembali memantik kegaduhan publik. Lagu berjudul “Erika” yang mereka nyanyikan ramai-ramai viral di platform X, bukan karena musikalitasnya, tetapi karena liriknya yang vulgar dan sarat objektifikasi terhadap perempuan.

Dalam video yang beredar, puluhan mahasiswa tampak larut dalam euforia. Mereka bernyanyi, bertepuk tangan, dan menyambut setiap bait tanpa jeda kritik. Di layar, lirik yang diproyeksikan mengandung narasi seksual yang merendahkan—menggambarkan tubuh perempuan sebagai objek konsumsi, bukan subjek yang bermartabat.

Yang mengusik bukan sekadar kata-kata. Tapi bagaimana kata-kata itu dirayakan.

Unggahan akun @iPoopBased pada Senin (13/4/2026) meledak, menembus lebih dari 1,2 juta penayangan dalam waktu singkat. Reaksi publik pun keras. Sebagian menyindir budaya internal himpunan, sebagian lain mempertanyakan kegagalan ruang akademik dalam membangun sensitivitas etika.

Lagu “Erika” sendiri bukan barang baru. Rekamannya telah beredar sejak satu dekade terakhir di berbagai platform digital. Ia disebut-sebut terinspirasi dari kisah lapangan seorang mahasiswa. Namun di era keterbukaan informasi, narasi lama yang dulu dianggap “lucu” kini diuji ulang oleh kesadaran baru—tentang batas, tentang martabat, tentang kekerasan simbolik.

Masalahnya menjadi lebih serius karena muncul bersamaan dengan isu dugaan kekerasan seksual di lingkungan kampus yang sama. Publik pun tak lagi melihat ini sebagai kebetulan, melainkan sebagai potret yang lebih besar: budaya yang mungkin selama ini dibiarkan tumbuh tanpa koreksi.

Respons netizen mencerminkan pergeseran nilai. Ada yang menyebut tradisi seperti ini harus diputus, bukan dilestarikan. Ada pula yang menyoroti ironi—ketika mahasiswi turut bernyanyi, seolah mengamini narasi yang merendahkan dirinya sendiri.

Sementara itu, pihak HMT ITB, KM ITB, hingga rektorat belum memberikan pernyataan resmi. Diam, dalam situasi seperti ini, bukan sekadar jeda—melainkan sikap yang ikut dinilai publik.

Kasus ini menampar kesadaran kolektif: kampus bukan hanya tempat mengasah intelektual, tetapi juga membentuk nilai. Ketika candaan kehilangan empati, ia berhenti menjadi hiburan—dan mulai menjadi legitimasi.

Di era digital, tidak ada lagi yang benar-benar “internal”. Yang tersisa hanya pilihan: membenahi, atau terus membiarkan luka lama diwariskan sebagai tradisi.(TW)

Editor : Tri Wahyuni

You may also like