Samarinda, VivaNusantara – Muncul dugaan sekolah-sekolah di Kalimantan Timur (Kaltim) dipaksa membeli buku berjudul “Mengubah Nasib” dengan harga mencapai Rp3 juta per sekolah, untuk 20 buku. Isu ini memicu kontroversi lantaran disebut menggunakan dana BOSNAS maupun BOSDA.
Namun, Dinas Pendidikan (Disdik) Kaltim menegaskan tidak pernah mengeluarkan instruksi resmi terkait kewajiban pembelian buku. Plt Kepala Disdik Kaltim, Armin, memastikan pihaknya hanya sebatas memberi rekomendasi bacaan.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Disdik Kaltim, Armin
“Kami tidak ada arahan untuk wajib membeli buku. Kami hanya memberikan rekomendasi buku yang bagus untuk referensi perpustakaan,” tegas Armin, Selasa (2/9/2025).
Berbeda dengan klarifikasi itu, seorang narasumber yang identitasnya minta dirahasiakan mengungkap bahwa ada tim percetakan sempat mendatangi sejumlah sekolah untuk menagih pembayaran sebesar Rp3 juta. Jumlah tersebut disebut setara dengan sekitar 20 eksemplar buku, atau Rp150 ribu per eksemplar.
Buku yang dimaksud setebal 276 halaman berwarna, dengan gambar cover Ketua DPRD Kaltim periode 2019 – 2024, Hasanudin Mas’ud dan ditulis olehnya sendiri , bersama Safardy Bora, dan diterbitkan oleh Halaman Moeka Publishing pada 2023.
Narasumber menyayangkan adanya desakan pembelian buku yang tidak berkaitan langsung dengan kebutuhan pembelajaran. Terlebih, saat ini dana BOSNAS dan BOSDA tidak lagi dikelola langsung sekolah, melainkan ditangani Disdik Kaltim.
“Sekolah jadi bingung dari pos mana harus membayar. Tapi akhirnya tetap keluar biaya, karena ditelepon oknum Disdik,” ujar sumber yang minta tidak disebukan namanya.
Hingga berita ini diturunkan, Disdik Kaltim tetap pada sikapnya bahwa tidak ada kewajiban bagi sekolah membeli buku tertentu, dan rekomendasi bacaan yang diberikan tidak bersifat mengikat.
Penulis : Intan
Editor : TW