Samarinda, VivaNusantara — Rencana investasi Nestlé untuk mendirikan pabrik makanan bayi berbahan dasar pisang kepok di Kalimantan Timur berhenti di tengah jalan. Ketertarikan awal yang muncul pada 2023 tidak kunjung berkembang dan memperlihatkan bagaimana kesiapan infrastruktur dasar masih menjadi persoalan utama dalam menjemput peluang hilirisasi pertanian di daerah ini.
Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Kaltim, Kosasih, menjelaskan bahwa minat Nestlé muncul setelah perusahaan menilai kualitas pisang kepok Kaltim cukup potensial sebagai bahan baku industri makanan bayi.
“Orang Nestlé saja sudah datang menemui saya. Mereka ingin bangun pabrik makanan bayi dari pisang kepok. Kualitas pisang kita memang cukup bagus,” ujarnya, Kamis (4/12/2025).
Namun hasil kajian kelayakan menunjukkan hambatan mendasar pada kualitas air baku. Air di beberapa titik di Kaltim memiliki kandungan asam tinggi yang menyebabkan tepung pisang berubah kemerahan dan tidak memenuhi standar industri. Solusi teknis seperti penyulingan air memang memungkinkan, tetapi akan berdampak pada tingginya biaya produksi.
“Kalau harus menyuling air, cost-nya jadi tinggi. Mereka butuh sumber air yang minimal kualitasnya setara air PDAM atau air gunung,” jelas Kosasih.
Pada 2023, Nestlé sempat diajak meninjau sejumlah lokasi, termasuk sentra pisang Kaliurang dan kawasan Selangkau di Kutai Timur yang memiliki sumber air pegunungan dengan kualitas lebih baik. Namun lokasi tersebut menghadapi persoalan baru karena biaya pembebasan lahan sangat tinggi akibat seluruh area merupakan milik masyarakat. Kondisi ini membuat skema investasi menjadi tidak ekonomis.
Kosasih menilai ketertarikan Nestlé seharusnya menjadi penanda bahwa peluang hilirisasi di Kaltim cukup besar tetapi membutuhkan kesiapan pemerintah daerah untuk menindaklanjuti. Menurutnya, keberadaan pabrik akan memberi dampak penting bagi petani lokal melalui jaminan pasar yang lebih pasti.
“Kalau investasinya jadi, petani kita tidak akan bingung lagi jual pisangnya. Ada pembeli pasti,” tegasnya.
Di sisi lain, Nestlé justru berhasil memperluas investasi di wilayah lain yang ekosistem industrinya lebih siap. Perusahaan tersebut tercatat menggelontorkan investasi besar di Jawa dan Lampung, termasuk pembangunan pabrik senilai USD 220 juta di Batang pada 2021 serta perluasan tiga pabrik lainnya dengan nilai sekitar USD 100 juta.
Situasi ini menunjukkan bahwa Indonesia masih menjadi pasar prioritas bagi Nestlé. Namun Kaltim belum mampu menjadi pilihan yang kompetitif akibat persoalan dasar yang belum terselesaikan, mulai dari kualitas air, kesiapan lahan, hingga ketiadaan kawasan agroindustri yang benar-benar siap bangun.
Kosasih berharap pemerintah provinsi kembali membuka ruang dialog agar peluang investasi tersebut tidak hilang begitu saja.
“Kuncinya ada di pemerintah daerah. Kalau peluang ini ditindaklanjuti, nilai tambahnya akan besar bagi hilirisasi pertanian Kaltim,” pungkasnya.
Penulis: Ain
Editor: Lisa