Samarinda, VivaNusantara – Anak muda Indonesia kini semakin lantang menyuarakan keinginan untuk pergi merantau ke luar negeri, baik untuk studi, pekerjaan, atau kehidupan yang dianggap lebih baik.
Fenomena ini dibumbui tagar #KaburAjaDulu, yang sering muncul di media sosial sebagai simbol integrasi keinginan kolektif.
Data survei YouGov Indonesia, misalnya, menunjukkan bahwa sekitar 41 persen Gen Z mengaku memiliki niat kuat untuk pindah ke luar negeri demi peluang yang dianggap lebih baik.
Angka ini jauh lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya: Gen Milenial (32%), Gen X (26%), dan Baby Boomer (12%).
Motivasi utama mereka bukan sekadar mencari gaji lebih tinggi, tapi juga kualitas hidup, suasana kerja, serta akses pendidikan yang dinilai lebih terbuka.
Di sisi lain, muncul pertanyaan besar: apakah keinginan anak muda ini berarti makin luntur rasa kebangsaan?
Ketidakpastian ekonomi, peluang kerja yang terbatas, kualitas layanan publik yang dianggap kurang, semua mendorong generasi muda mempertimbangkan opsi alternatif.
Pakar Komunikasi Politik dari Universitas Airlangga, Suko Widodo, mengatakan bahwa fenomena #KaburAjaDulu adalah gejala bahwa semangat kebangsaan mulai tergoyahkan oleh rasa frustasi atas ketimpangan sosial ekonomi.
“Banyak anak muda yang tetap menyimpan harapan besar terhadap Indonesia meski mereka bersikap realistis,” bebernya.
Diantaranya, anak muda yang telah membuat persiapan matang, mencari beasiswa, kursus persiapan, belajar bahasa, hingga mengikuti festival studi dan kerja luar negeri. Mereka bukan hanya “ingin kabur”, tapi ingin “tinggal dan berkonstribusi setelahnya”.
Fenomena ini menuntut refleksi kebijakan publik. Beberapa poin penting:
1. Pengembangan kesempatan lokal: pendidikan berkualitas, akses karier profesional, dan lapangan kerja yang kompetitif masih menjadi kekurangan utama.
2. Peluang dan insentif untuk yang kembali: pengalaman luar negeri harus dipakai dan dihargai jika sang pemuda kembali, misalnya lewat insentif kerja, riset, atau sektor kreatif.
3. Menguatkan rasa bangga lokal: kurikulum pendidikan, budaya, dan media perlu aktif menanamkan nilai kebangsaan, bukan hanya simbol, tapi praktik nyata dalam pelayanan publik, keadilan sosial, dan penguatan identitas.
4. Transparansi dan meritokrasi: banyak anak muda yang mengeluh bahwa usaha keras tak selalu berbanding lurus dengan hasil di Indonesia—karir stagnan, nepotisme, birokrasi. Bila ini diperbaiki, kepercayaan bisa dipulihkan.
Fenomena #KaburAjaDulu bukan hanya sekadar keinginan personal untuk pergi ke luar negeri. Ia adalah indikasi kegelisahan generasi muda terhadap masa depan di tanah air.
Namun jauh dari menjadi bukti bahwa nasionalisme telah hilang, ini lebih kepada suara protes, surat cinta yang menuntut agar Indonesia tidak hanya menjadi tempat lahir, tapi juga tempat bertumbuh, berharap, dan dihargai.
Jika generasi muda berpikir untuk “kabur”, itu berarti negeri ini belum memberi mereka semua yang mereka butuhkan kesempatan, keadilan, dan harapan.
Penulis: Ellysa
Editor: Lisa