Home DaerahKota SamarindaKomunikasi Sehat Jadi Penentu Ketahanan Keluarga, Bukan Sekadar Tinggal Serumah

Komunikasi Sehat Jadi Penentu Ketahanan Keluarga, Bukan Sekadar Tinggal Serumah

by Redaksi
0 comments

Samarinda, VivaNusantara — Ketahanan keluarga tidak hanya ditentukan dari lamanya waktu menikah, tetapi kualitas komunikasi di rumah. Seminar Parenting “Sinergi Ayah dan Ibu” menekankan komunikasi keluarga harus mengikuti situasi dan perasaan, bukan sekadar tanya jawab formal seperti “lagi sibuk apa?”.

Menurut Founder BAP Training,Fitri Maisyaroh, banyak keluarga tampak baik secara sosial tetapi rapuh secara internal karena komunikasi hanya dilakukan sebagai kewajiban, bukan sebagai kebutuhan emosional.

“Komunikasi efektif bisa menyelesaikan masalah jangka pendek, tetapi komunikasi sehat menyelesaikan akar masalah,” ujarnya saat menjadi pemateri di Ruang Serba Guna Ruhui Rahayu, Kantor Gubernur Kaltim Jl. Gajah Mada Samarinda, Kamis (27/11/2025).

Kajian ilmiah juga dipaparkan, termasuk penelitian 90 tahun terhadap tiga generasi keluarga yang menemukan satu faktor terbesar yang membuat pasangan bertahan lama: Positive Illusion, yaitu memilih fokus pada kebaikan pasangan tanpa mengingkari kekurangannya. Hal ini berkaitan langsung dengan stabilitas interaksi dan kenyamanan emosional dalam keluarga.

Komunikasi sehat dalam rumah disebut berlapis pada tiga ranah peran perempuan sebagai individu, istri, dan ibu dengan catatan bahwa ketahanan emosional perempuan sangat berpengaruh pada kenyamanan anak. Fitri menjelaskan bahwa seorang ibu hanya dapat menciptakan lingkungan aman apabila ia sendiri sehat secara ragawi, rasio, rasa, ruhiyah, dan rezeki (5R).

Pembinaan juga menyoroti fenomena “invisible burden”, yakni luka batin yang tidak disadari namun beresonansi pada perilaku dan emosi anak. Menekan luka dengan prinsip “sudah lah, lupakan saja” tidak menyelesaikan apa pun. Luka perlu diterima dulu sebelum dilepas, karena perubahan hanya terjadi apabila rasa yang mendasarinya berubah.

Fitri menegaskan bahwa ketahanan keluarga tidak dapat dibangun melalui seremonial, slogan, atau pencitraan. “Parameter keluarga bahagia sederhana: kalau besok harus menikah lagi, apakah kita tetap akan memilih pasangan yang sama? Jika jawabannya iya, berarti komunikasi dalam keluarga berjalan,” ucapnya.

Di akhir diskusi, Fitri yang juga penggagas Perda Penyelenggaraan Ketahanan Keluarga Provinsi Kaltim ini mengingatkan, pembangunan keluarga dan pembangunan masyarakat harus bergerak seiring. Anak berinteraksi tidak hanya di rumah, tetapi juga di lingkungan sosial. Karena itu, komunikasi sehat di dalam keluarga menjadi fondasi utama pembentukan karakter anak di masyarakat.

Penulis: Intan
Editor: Lisa

You may also like