Samarinda, VivaNusantara — Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Kalimantan Timur terus mencatatkan perkembangan positif. Hingga Juni 2025, tercatat sebanyak 24.888 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Bumi Etam telah memperoleh pembiayaan dengan total nilai mencapai Rp1,8 triliun.
Program KUR merupakan bagian dari kebijakan pemerintah untuk memperluas akses pembiayaan bagi sektor UMKM di seluruh Indonesia. Tahun ini, peluncuran akad massal KUR 2025 dilaksanakan serentak secara nasional, termasuk di Provinsi Kalimantan Timur.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (DPPKUKM) Kaltim, Heni Purwaningsih, menilai KUR menjadi instrumen penting dalam memperkuat struktur ekonomi daerah berbasis usaha kecil dan menengah.
“KUR ini kami dorong agar benar-benar digunakan untuk meningkatkan produktivitas usaha, bukan untuk keperluan konsumtif. Kami ingin tidak ada penyimpangan dalam pemanfaatannya,” ujar Heni.
Ia menjelaskan, hingga saat ini terdapat sembilan lembaga penyalur KUR yang beroperasi di Kaltim, antara lain BRI, Bankaltimtara, BNI, BSI, Bank Mandiri, BTN, Bukopin, BCA, dan Pegadaian. Setiap debitur, kata dia, wajib melalui proses seleksi dan penilaian ketat sebelum memperoleh pembiayaan.
“Selain itu, kami juga menggandeng perguruan tinggi untuk melakukan pendampingan, agar penerima KUR dapat mengelola pinjamannya dengan baik dan berkelanjutan,” tambahnya.
Besaran pembiayaan disesuaikan dengan skala usaha. Untuk kategori KUR Mikro, plafon pinjaman maksimal mencapai Rp25 juta, sementara KUR produktif dan menengah dapat mencapai Rp200 juta hingga Rp250 juta.
Sekretaris Daerah Provinsi Kaltim, Sri Wahyuni, menegaskan pentingnya pengawasan serta pembinaan bagi penerima KUR.
“Perguruan tinggi akan berperan dalam memberikan pembinaan agar dana KUR benar-benar dimanfaatkan untuk pengembangan usaha, bukan disalahgunakan,” ujarnya.
Meski demikian, upaya tersebut tetap memerlukan konsistensi di lapangan. Tanpa sistem evaluasi dan pengawasan yang kuat, risiko penyimpangan dan penyaluran yang tidak tepat sasaran masih menjadi tantangan bagi pelaksanaan program ini.
Penulis: Ain
Editor: Lisa