Samarinda, VivaNusantara – Di tengah gemuruh zaman yang serba cepat dan modern, komunitas sepeda ontel di Kalimantan Timur tetap mengayuh tenang. Eksistensinya membawa kenangan dan semangat tempo dulu yang belum pudar. Sepeda ontel bukan sekadar alat transportasi, melainkan jejak sejarah yang masih hidup, yang dulunya menjadi kendaraan rakyat pada masa penjajahan Belanda bahkan mungkin jauh sebelumnya.
Haji Bagong, salah satu anggota komunitas ontel yang telah aktif sejak tahun 2010, menyebut kehadiran komunitas ini bukan hanya demi hobi, melainkan bagian dari upaya menghidupkan kembali warisan budaya yang nyaris tergerus zaman.
“Jangan sampai peninggalan-peninggalan ini terkikis oleh perkembangan waktu. Komunitas ontel menjadi ruang untuk mengabadikan bahwa sepeda klasik ini masih eksis dan punya tempat di hati masyarakat,” tuturnya saat ditemui di Acara KalaFest Citra Niaga, Jumat (14/6/2025).
Menurut pria yang telah 15 tahun menjadi bagian dari komunitas Ontel Opsir Anggana di Kabupaten Kutai Kartanegara ini, sepeda ontel mengandung filosofi yang dalam. Salah satunya adalah semangat persaudaraan. Ia mengutip semboyan yang begitu populer di kalangan komunitas, “Satu sepeda, sejuta saudara.” Kalimat itu bukan sekadar slogan, melainkan cerminan dari kuatnya rasa kekeluargaan antarpengayuh sepeda zaman dulu itu.
Haji Bagong menyebutkan, saat ini terdapat sekitar 21 komunitas sepeda ontel yang tersebar di Kalimantan Timur, mulai dari Samarinda, Loa Kulu, Lempake, hingga Palaran. Masing-masing membawa ciri khas dan semangat yang sama dalam merawat sejarah. Beberapa di antaranya tergabung dalam organisasi yang aktif mengikuti kegiatan rutin setiap akhir pekan, hingga menghadiri ajang nasional seperti Musyawarah Nasional (Munas) pecinta sepeda ontel.
“Alhamdulillah, kita ikut Munas ke-5 di Palembang dan berhasil meraih medali. Insyaallah, pada Munas ke-6 yang akan digelar di Mandalika, NTB, pada 26 Juli sampai 1 Agustus nanti, komunitas sepeda ontel Kalimantan Timur siap berangkat dan membawa nama harum daerah,” ungkapnya dengan nada bangga.
Tidak hanya ajang nasional, komunitas ini juga aktif terlibat dalam berbagai agenda lokal, termasuk kegiatan kenegaraan seperti upacara Hari Pahlawan, karnaval budaya, hingga mendukung program pemerintah. Kini, keberadaan mereka turut diakui secara resmi setelah bergabung dengan KORMI (Komite Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia) dan Dispora.
Berbicara soal jenis sepeda, Haji Bagong mengibaratkan sepeda ontel layaknya mobil klasik. Ada banyak merek dan karakter, seperti Gazelle, Simplex, dan Relic. Masing-masing punya nilai historis dan estetika tersendiri. Beberapa sepeda lawas bahkan masih dijumpai dalam kondisi orisinal dan memiliki harga jual yang tinggi.
“Kalau di Jawa, saya pernah melihat sepeda merek Simplex keluaran tahun 1887. Luar biasa, itu sepeda lebih tua dari umur kita semua,” kisahnya sambil tersenyum. Di Kalimantan Timur sendiri, ia menyebut ada sepeda-sepeda ontel dari sekitar tahun 1900, yang dipercaya sudah ada sejak era kolonial Belanda.
Di mata Haji Bagong, ontel bukan sekadar nostalgia. Ia adalah manifestasi dari kekuatan sebuah warisan budaya yang tak lekang oleh waktu.
“Ontel itu tidak termakan zaman. Di zaman apa pun, di mana pun, sepeda ini tetap punya tempat,” ujarnya mantap. Dan dari sepedanya yang sederhana itu, lahir rasa hormat, kebersamaan, serta cinta akan akar sejarah yang terus dikayuh pelan, tapi tak pernah berhenti.
Penulis: Intan
Editor: Lisa