Home DaerahKota SamarindaPeserta Vasektomi Lampaui Target Nasional, Pria Perlu Ambil Peran dalam Program KB

Peserta Vasektomi Lampaui Target Nasional, Pria Perlu Ambil Peran dalam Program KB

by Redaksi
0 comments

Samarinda, VivaNusantara – Langkah nyata keterlibatan pria dalam program Keluarga Berencana (KB) mulai terlihat jelas di Samarinda. Tak cukup berperan sebagai pendamping, sejumlah pria kini mengambil peran lebih besar dengan menjalani vasektomi, metode kontrasepsi permanen yang sebelumnya masih dianggap tabu.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Samarinda, Isfihani menyampaikan, jumlah pria yang bersedia menjalani vasektomi di kota ini telah melampaui kuota nasional yang ditetapkan pemerintah pusat.

“Target awal hanya dua orang. Tapi hingga pertengahan tahun ini, sudah tujuh pria yang telah menjalani vasektomi di Samarinda,” ungkap Isfihani, Sabtu (14/6/2025).

Ia menilai pencapaian ini sebagai sinyal positif terhadap tumbuhnya kesadaran laki-laki dalam pengaturan kehamilan.

Peningkatan ini tak lepas dari peran aktif para penyuluh lapangan. Mereka secara konsisten memberikan informasi kepada masyarakat, membuka ruang diskusi, serta mendekatkan layanan vasektomi melalui fasilitas kesehatan yang tersedia.

“Perubahan ini adalah hasil dari proses panjang. Kami terus menekankan pentingnya berbagi peran dalam keluarga, termasuk dalam hal pengendalian kelahiran,” imbuh Isfihani.

Meski demikian, tantangan masih ada. Fitriany Madjid, Kepala Bidang Pengendalian Penduduk, Penyuluhan, dan Penggerakan KB DPPKB Samarinda, menjelaskan bahwa stigma dan mitos seputar vasektomi masih menjadi hambatan.

“Banyak pria mengira vasektomi bisa membuat mereka kehilangan kemampuan seksual. Padahal itu tidak benar. Jalur ejakulasi dan fungsi seksual tidak terganggu oleh prosedur ini,” tegasnya.

Penyuluhan pun dilakukan secara menyeluruh dan melibatkan pasangan. Pendekatan ini dilakukan untuk memastikan bahwa keputusan vasektomi merupakan hasil kesepakatan bersama, bukan keputusan sepihak.

“Kami tidak ingin muncul konflik rumah tangga karena miskomunikasi. Suami istri harus sama-sama paham konsekuensinya,” ujar Fitriany.

Ia pun menceritakan salah satu kisah peserta vasektomi yang datang hingga tiga kali untuk memastikan dirinya bisa mengikuti prosedur. “Dua kali gagal karena tekanan darahnya tinggi, tapi ia tidak menyerah. Ia ingin meringankan beban istrinya yang tidak cocok dengan KB hormonal. Ini contoh tanggung jawab luar biasa,” ucapnya.

DPPKB tetap menerapkan seleksi ketat sebelum seseorang diperbolehkan menjalani vasektomi. Beberapa kriteria seperti usia, kesehatan umum, dan riwayat penyakit menjadi faktor penentu.

“Biasanya kami sarankan di atas usia 40 tahun. Kami tidak ingin keputusan permanen ini berdampak di masa depan, terutama jika ada perubahan status pernikahan,” jelasnya.

Menariknya, sebagian besar peserta vasektomi justru berasal dari keluarga yang sebelumnya mengalami kesulitan karena istri mereka tidak cocok dengan metode KB hormonal. Efek samping seperti pendarahan, migrain, hingga gangguan kesehatan lain menjadi pertimbangan para suami untuk mengambil peran lebih besar.

Langkah ini menunjukkan bahwa paradigma mulai bergeser. Dari yang semula hanya perempuan yang dibebani urusan KB, kini pria pun mulai tampil sebagai mitra setara dalam perencanaan keluarga.

Penulis: Intan
Editor: Lisa

You may also like