Home DaerahKota SamarindaPemkot Samarinda Tancap Gas, “Wisanggeni” Jadi Mesin Pengubah Sampah Jadi Nilai

Pemkot Samarinda Tancap Gas, “Wisanggeni” Jadi Mesin Pengubah Sampah Jadi Nilai

by Redaksi
0 comments

Samarinda, VivaNusantara – Setiap pagi, aroma khas dari tumpukan limbah rumah tangga kerap menyapa warga di gang-gang kecil hingga Tempat Penampungan Sementara (TPS). Namun kini, Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda mencoba membalikkan cerita lama itu melalui inovasi, insinerator Wisanggeni generasi ke-7.

Bagi sebagian orang, “insinerator” mungkin terdengar teknis dan asing. Namun alat pembakar tertutup ini menjadi simbol harapan baru untuk mengubah sampah menjadi sesuatu yang lebih bernilai.

“Yang kami usung bukan sekadar pembakaran, tapi sistem yang bersih, terkendali, dan memberi manfaat balik,” ujar Sukisman, Anggota Bidang Infrastruktur, Lingkungan Hidup, dan Ketahanan Iklim Tim Walikota untuk Akselerasi Pembangunan (TWAP) Samarinda, saat ditemui di Kantor TWAP Samarinda, Selasa (7/10/2025).

Tak banyak warga tahu, perjalanan sampah menuju Wisanggeni ternyata panjang dan terencana. Bagi mereka yang tinggal di sekitar area insinerator, pengelolaan dilakukan secara mandiri. Warga boleh langsung mengantar sampah terpilah organik, anorganik, dan B3, tanpa harus melewati TPS.

Namun bagi wilayah yang jauh, sistemnya bergantung pada petugas kebersihan lokal yang ditunjuk melalui kesepakatan warga. Honor mereka pun berasal dari iuran yang disepakati secara gotong royong.

“Ini bukan cuma proyek teknologi, tapi juga proyek sosial. Warga ikut mengatur mekanisme pengangkutan sendiri,” ungkap Sukisman.

Dari TPS, nantinya petugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda yang akan turun tangan. Mereka memilah ulang, memastikan tidak ada bahan berbahaya yang terselip, sebelum akhirnya truk pengangkut membawa sampah menuju lokasi pembakaran. Proses pemilahan ini menjadi kunci utama agar sampah yang masuk ke Wisanggeni siap dikelola tanpa menimbulkan polusi.

Begitu sampah tiba di lokasi, operator mulai menyiapkan tungku pembakaran. Tak ada asap hitam membubung seperti dapur raksasa; yang terlihat justru bangunan logam kokoh dengan sistem pipa dan bilik penyaring di sisi belakang.

Prosesnya dimulai dengan memanaskan ruang tungku menggunakan gas elpiji 3 kilogram. Ketika suhu mencapai sekitar 200 derajat Celsius, gas dihentikan, dan api dijaga tetap hidup oleh sampah itu sendiri.

“Sampah yang membakar sampah. Di titik ini, oksigen adalah kunci. Kalau suplai udaranya tepat, pembakaran bisa sempurna tanpa asap,” katanya.

Pada generasi ke-7 Wisanggeni ini, sistem sirkulasinya dilengkapi ruang-ruang oksigen tambahan agar suhu stabil di atas 800°C. Di suhu tersebut, semua partikel organik hancur menjadi abu halus yang aman dari racun. Abu itulah yang kemudian diolah menjadi bahan campuran paving block, menutup lingkaran ekonomi sirkular yang mulai diimpikan banyak kota.

Wisanggeni juga unggul dalam sistem penanganan emisi. Asap dari pembakaran tidak langsung dilepas ke udara, melainkan diarahkan ke empat bilik penyaring di Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Setiap bilik memiliki media filter yang berbeda, mulai dari air, batu zeolit, hingga karbon aktif, untuk menangkap partikel halus dan gas berbahaya.

Air hasil penyaringan tak dibuang, tapi disirkulasikan ulang secara terus-menerus. Tak setetes pun air limbah mengalir keluar ke tanah.

“Ini yang membuat sistemnya disebut closed loop. Lingkungan tetap aman, tidak ada air buangan, dan udara tetap bersih,” tuturnya.

Setelah delapan jam operasi dan sepuluh ton sampah terolah, api dalam tungku perlahan padam dengan sendirinya. Operator hanya akan meninggalkan lokasi setelah suhu turun di bawah 150°C dan seluruh panel listrik dimatikan. Semua dilakukan sesuai prosedur keamanan yang ketat.

Pemkot Samarinda berharap, dengan hadirnya Wisanggeni, paradigma pengelolaan sampah bisa berubah dari sekadar buang ke sistem pemanfaatan berkelanjutan.

“Yang terpenting sekarang, warga mulai sadar memilah dari rumah. Karena sebersih apapun teknologinya, kalau sumbernya kotor, hasilnya tetap sama,” tandasnya.

Penulis: Ellysa
Editor: Lisa

You may also like