Samarinda, VivaNusantara – Perpisahan siswa SMP Muhammadiyah 6 Samarinda menjadi momentum refleksi dalam pengembangan pendidikan karakter. Menghadapi tantangan masa kini, pembentukan akhlak dan nilai-nilai Islami menjadi fondasi utama dalam mencetak generasi masa depan.
Setelah dinyatakan lulus, sebanyak 61 siswa dari kelas 9 angkatan 7 resmi dilepas, pada Rabu (21/5/2025). Kegiatan ini terlaksana di Aula SMP Muhammadiyah 6 Samarinda dengan mengusung tema “Mewujudkan Generasi Mulia dalam Akhlak, Bersinar dalam Cita”.

Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah 6 Samarinda, Danas Miftahul Gisya.
Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah 6 Samarinda, Danas Miftahul Gisya menegaskan bahwa sekolah yang ia pimpin menerapkan konsep pendidikan terintegrasi bersama SD Muhammadiyah 5 Samarinda. Konsep ini memastikan kesinambungan pembinaan karakter sejak jenjang dasar hingga menengah.
“Kami berharap ini menjadi kenangan indah dan bekal untuk masa depan mereka,” ujar Danas.
Ia menjelaskan, pendidikan karakter dimulai sejak SD dan dikembangkan hingga ke SMP. Pendekatan dijalankan dengan sistematis, baik dari sisi kurikulum, tenaga pendidik, hingga budaya sekolah.
“Kami ingin anak-anak membawa karakter yang kuat, bukan sekadar pintar, tapi berakhlak mulia,” jelasnya.
Perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Samarinda, Kabid Pembinaan SMP Muhammad Wahiduddin, menjelaskan tantangan terbesar dalam dunia saat ini yaitu pendidikan akhlak. Sehingga tidak bisa hanya dibebankan pada sekolah. Orang tua pun memiliki peran sangat penting dalam membentuk kepribadian anak.
“Kompetensi dan nalar kritis penting, tapi akan sia-sia kalau tidak diiringi dengan akhlak yang baik. Pendidikan harus mengembalikan orientasinya ke situasi ini,” tegas Wahiduddin.
Ia juga mengapresiasi prestasi SMP Muhammadiyah 6 yang telah konsisten mencetak siswa berprestasi, hingga tingkat nasional. Menurutnya, kolaborasi antara sekolah dan orang tua adalah kunci keberhasilan pendidikan holistik.

Wali Kelas 9B, Aulia Nuur Hairunnisa.
Sementara itu, Wali Kelas 9B, Aulia Nuur Hairunnisa, yang telah mendampingi siswa selama dua tahun terakhir, mengungkapkan kebanggaannya atas perkembangan murid-muridnya. Tantangan pembinaan justru lebih banyak terjadi di luar sekolah, seperti pergaulan yang kurang terpantau.
“Secara umum mereka sudah mandiri. Tapi tantangan muncul dari luar sekolah, misalnya soal kedisiplinan atau hubungan pertemanan yang tidak sehat. Tapi mereka tetap bisa diarahkan,” jelasnya.
Ia pun menutup pernyataannya dengan menekankan pentingnya menjaga hafalan Al-Qur’an, salat lima waktu, dan adab sebagai bentuk tanggung jawab moral sebagai alumni sekolah Islam.
Penulis: Ellysa
Editor: Lisa