Samarinda, VivaNusantara – Gerbang utama Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda, Jumat (19/9/2025), menjadi ruang perlawanan ketika kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat UINSI menggelar mimbar bebas bertajuk September Gelap.
Dalam orasi yang bergantian, mahasiswa menguliti kembali luka lama bangsa: Tragedi Semanggi II, pembunuhan aktivis HAM Munir Said Thalib, hingga sederet pelanggaran HAM lain yang hingga kini tidak pernah benar-benar tuntas. Mereka menegaskan, impunitas yang dibiarkan hanya memperpanjang ketidakadilan.
“Sejarah kelam bangsa tidak boleh dibiarkan jadi arsip berdebu. Negara wajib bertanggung jawab atas darah yang tumpah, dan PMII akan terus berada di garis depan menagih keadilan,” tegas Husni Mubarak, Ketua Umum PMII Komisariat UINSI Samarinda.
Aksi yang berlangsung di tengah riuh lalu lintas itu menarik perhatian pengguna jalan. Bendera PMII berkibar, suara orasi bergema, dan pesan yang disampaikan jelas: negara tidak boleh abai terhadap luka sejarah.
Hadir pula Ketua PMII Cabang Samarinda serta jajaran Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Kalimantan Timur. Kehadiran mereka mempertegas bahwa isu pelanggaran HAM bukan sekadar wacana lokal, melainkan agenda perjuangan yang harus terus dihidupkan.
Penulis: Intan
Editor: Lisa